Ads

Kamis, 03 September 2020

September 03, 2020
Pria pemburu burung (kanan) saat dihadapkan ke kepala Desa Buntaran

KORANPAGI.NET - Untuk menyelamatkan lingkungan terutama pelestarian burung  sebagai keseimbangan ekosistem, Pemerintah Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, sepakat membuat Peraturan Desa (Perdes) atas gagasan kelompok pemuda peduli lingkungan (PPL) bersama LPM, BPD dan para tokoh desa. Pelanggar Perdes dikenai sanksi sosial hingga denda uang, Kamis (3/9/2020).

Peraturan Desa (Perdes Buntaran) Nomor 01 Tahun 2019 ini membuat empat peraturan penting termuat demi menjaga ekosistem dan kelestarian lingkungan diantaranya menebar jaring atau penggunaan bahan kimia beracun, peledak dan strum listrik di wilayah perairan desa.

Berburu dan menangkap segala jenis burung di wilayah Desa Buntaran. Membuang sampah, bangkai, tinja dan segala jenis bahan beracun ke sungai dan saluran air. Melakukan kegiatan usaha yang dapat mencemari lingkungan tanpa mendapat izin dari pihak yang berwenang.  Melakukan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup, ada pun denda yang telah diterapkan yakni satu juta rupiah sampai dengan Rp 10 juta.

Jika terbukti melanggar baik warga Desa Buntaran maupun warga desa lain, pelaku akan mendapat sanksi tegas berupa denda uang sesuai kesepakatan. Perdes tersebut sudah disetujui dan disosialisasikan.

Semua satwa milik Desa Buntaran tercatat  diantaranya, Burung Derkuku, Jalak, Cendet, Blekok, Kepodang dan Perkutut.

Bila ingin melihat keindahan serta merdunya nyanyian burung berkicau hendaknya pada pagi hari pukul 5.00 WIB dan sore hari. Menariknya adalah bagaimana habitat burung terjaga baik sebagai rumah nyamannya dan bisa di jumpai di sekitar kantor desa. Dengan ekosistem baik akan tercipta lingkungan yang baik.

Kepala Desa Buntaran, Wakit, SH menegaskan, hal ini adalah langkah awal untuk pelestarian burung dan pihaknya akan terus ekstra menjaganya.

"Melalui gerakan PPL, dengan cara memasang  papan peringatan dibeberapa titik agar terbaca dan mereka yang masuk di desa kami jangan sembarangan berburu," tegasnya.

Sejauh ini, tambah Wakit, sudah lima pelanggar, baik perburuan burung atau pun ikan yang diberi sanksi sekaligus denda.

"Tujuannya supaya jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Upaya meningkatkan keamanan, desa membuat grup di aplikasi (WhatsApp) agar bisa monitor dan grup ini sangat membantu jika ada kejadian," ungkap Wakit, SH.

Sementara itu, seorang pria asal Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, siang tadi tengah santai di sawah melakukan perburuan burung dengan membawa alat pemikat. Alhasil, pria bernama Chamim (35), langsung diamankan ke kantor desa.

Awalnya mengelak dituduh berburu burung di Desa Buntaran. Ia mengaku sengaja datang dari Kediri ke Tulungagung  sekedar jalan-jalan mencari hiburan. Pria mengaku pekerja freeline ini kesehariannya mecari orang yang membutuhkan jasanya.

"Saya ke Tulungagung untuk mencari hiburan, saat melihat burung dan saya spontan melilitkan pulut ke ranting kayu, tak lama kemudian dua ekor burung jenis prenjak berhasil menempel di jebakan pulutnya. Dari situ saya berkeinginan  untuk melepaskannya lagi tapi keburu ada beberapa pemuda datang. Kalau benar aturan desa pasti saya patuhi," ujar Chamim.

Burung- burung berkicau di alam bebas tersebut dijaga kelestariannya sebagai keseimbangan ekosistem alam. Desa Buntaran banyak menyimpan potensi hayati, flora dan fauna, serta ingin memajukan Desa Buntaran dengan mengkonservasi kekayaan alam. (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar