Ads

Selasa, 14 Juli 2020

Juli 14, 2020
Disisipi batu bata

KORANPAGI.NET - Proyek pembangunan plengsengan saluran batu kali di Jalan Jolotundo, Surabaya, yang dikerjakan oleh CV Angkasa Pelangi Mas, dengan anggaran APBN kota Surabaya senilai Rp. 769.262.066.10, dalam pengerjaannya terlihat asal jadi, dan tidak sesuai Spesifikasi Teknis (Spektek), Selasa (14/7/2020).

Dari pantauan dilokasi pembangunan plengsengan, didapati tidak ada Direksi keet dan tidak terpasang papan keterbukaan publik sesuai aturan undang-undang No.14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi Publik (KIP).

Selain itu, dalam pembangunan plengsengan saluran batu kali, kontraktor juga tidak menggunakan sheet pile dan kolom beton, serta tidak mengindahkan diameter pecahan batu kali. Padahal dalam Spektek sudah tertulis jelas Pekerjaan Pile Cap 80.80.30 Beton K-225 ; Besi Ulir 125 Kg. Pekerjaan Sloff 20x20 Beton K-225 ; Besi Ulir 111 Kg, Besi Polos 63 Kg. Pekerjaan Kolom 20/20 Beton K-225 ; Besi Ulir 111 Kg, Besi Polos 63 Kg. Pekerjaan Pasangan Batu Kali Belah 15/20 cm. Namun oleh kontraktor tidak dihiraukan.

Ketika awak media mewawancarai salah satu pekerja proyek tersebut mengaku tidak mengetahui aturan Spektek dalam pengerjaan plengsengan saluran."Saya hanya kuli mas, mandornya gak kesini," kata Edo.

Pembangunan plengsengan

Edo juga menjelaskan, bahwa kedalaman trucuk bambu hanya 170 cm dan tidak menggunakan sheet pile serta besi kolom dan pecahan batu kali besar besar.

"Dari awal pengerjaan gak gunakan sheetpile mas, kedalaman trucuk 170 cm dan pecahan batu ya begini ini mas ada yang lumayan besar," ucapnya dengan sedikit tersenyum.

Terpisah, Andi Mulya, SH, ketua DPC Ahli Hukum Kontrak Pengadaan (Perkahpi) Surabaya, dalam menyikapi pembangunan proyek plengsengan saluran batu kali, yang dalam pengerjaannya tidak sesuai dengan Spektek ini mengatakan, dirinya meyakini bahwa, pengerjaan serta material yang digunakan juga tidak sesuai dengan presentasi tander dan Spektek.

"Bila mana pembangunan konstruksi dikerjakan secara asal-asalan tidak sesuai dengan Spek. Hal seperti inilah yang menyebabkan rawan rusak atau terjadinya kegagalan bangunan. Mengingat pada tahun lalu, uang pemerintah hanya dijadikan 'Bancaan' oleh oknum-oknum rekanan yang tak bertanggungjawab," ucap Andi Mulya, SH, dengan tegas, selasa (14/07/2020).

Sementara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Surabaya Erna Purnawati, ketika dikonfirmasi melalui via WhatsApp terkait proyek tersebut, Erna terkesan enggan memberikan jawaban. (Hn/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar