Ads

Rabu, 17 Juni 2020

Juni 17, 2020
Penemuan kondom bekas pakai

KORANPAGI.NET - Bisnis prostitusi berkedok Panti Pijat Tradisional (pitrad) di Kota Surabaya sudah jadi rahasia umum. Bahkan tempat prostitusi seperti ini menjadi primadona bagi para lelaki hidung belang. Ironisnya, ditengah pandemi covid-19 dan masa transisi New Normal, diam-diam masih banyak yang beraktifitas tak mengindahkan protokol kesehatan.

Salah satunya adalah Pitrad New Anita yang berada di Jalan Mustika, Ngagel, Surabaya. Deretan Rumah Toko (ruko) dengan 3 lantai yang tak jauh dari pusat perbelanjaan dan perkampungan padat penduduk ini kerap menjadi tujuan para pria hidung belang dari berbagai kalangan.

"Disini aman mas, jarang dirazia oleh aparat," ucap Antok, salah satu pelanggan pitrad tersebut.

Antok menjelaskan, bahwa dirinya tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati kemolekan tubuh para terapis pitrad New Anita,"Untuk pijat dan esek-esek saya cuma bayar Rp 270 ribu mas," terangnya.

Ditanya tentang protokol kesehatan, ia pun bingung menjelaskan bagaimana cara yang aman ketika berkunjung ke tempat tersebut.

"Gimana menerapkannya, untuk pijatnya saja jelas tidak mungkin jaga jarak. Belum lagi kalau lagi bersenggama (esek-esek), masak harus pakai APD," papar Antok sembari tertawa.

Diketahui, 2 orang pemilik atau pengelola pitrad New Anita, yang bernama mami AN, dan MDR yang akrab dipanggil 'Pak Eko' ini menyediakan beberapa wanita sebagai terapis di dalam ruangan berdinding kaca (showroom) dengan pakaian seksi dan memamerkan belahan dada sebagai daya tarik para pengunjungnya. Dengan tarif bervariatif mulai dari Rp 150 ribu untuk layanan pijat saja, hingga Rp 270 ribu untuk layanan pijat beserta layanan seksnya.

"Layanan pijat saja terapis mendapat Rp 50 ribu, Rp 100 ribu untuk pengelola dan untuk layanan pijat plus esek-esek terapis mendapat bagian Rp 160 ribu dan sisanya masuk ke pengelola," ungkap sumber Koran Pagi.

Ruang atau bilik untuk terapis

Diduga ada upeti setiap bulannya untuk dinas-dinas terkait, sehingga Pitrad New Anita ini terhindar dari setiap razia petugas Satpol PP Kota Surabaya alias aman.

"Ada oknum dari pihak terkait selalu memberikan informasi kepada pengelola kalau ada kegiatan razia, sehingga pengelola pitrad itu dapat mengetahui kapan ada kegiatan razia agar pengelola dapat membersihkan tempat usahanya itu dari kondom yang habis dipakai terapis melayani tamu dan mengungsikan terapis yang tidak mempunyai kelengkapan surat-surat (sertifikasi terapis), serta tidak menerima tamu untuk sementara agar terhindar dari sangsi pelanggaran Peraturan Daerah (perda) Kota Surabaya," imbuhnya.

Kabid Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Surabaya Pieter Frans Rumaseb, ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya segera melakukan penindakan terhadap pitrad tersebut."Segara kami lakukan penindakan di tempat itu," kata Pieter.

Dengan berkedok panti pijat tradisional, bisnis lendir ini nampaknya berjalan mulus tanpa tersentuh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) serta Satpol PP maupun pihak Kepolisian, padahal telah jelas melanggar peraturan Kota Madya Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 7 tahun 1992 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang sudah jelas menyalahi fungsinya karena melanggar Perda Surabaya Nomor 1 tahun 2014 tentang perdagangan manusia (human trafficking). Serta melanggar Pasal 296 KUHP tentang memudahkan perbuatan cabul terhadap orang lain.

Sudah sering kasus-kasus seperti ini terungkap. Pelaku ditindak, namun hingga sampai saat ini Pitrad New Anita selalu lolos dari razia petugas berwenang. Padahal secara ijin, mereka sudah melanggar peraturan yang ada di Kota Surabaya. (Yd/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar