Ads

Jumat, 18 Oktober 2019

Oktober 18, 2019

KORANPAGI.NET- 'Mending tuku sate timbang tuku weduse', mendengar kalimat yang sempat viral dalam sebuah lantunan lagu ini mungkin di anggap praktis, namun sebenarnya beresiko besar. Hereditas budaya Patriaki dalam hal relasi (penularan) seksual  di Kabupaten Tulungagung terjadi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, Jumat (18/10/2019).

Ifada Nur Rohmaniah M. Psi., Psikolog.

Wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga cenderung pasif dalam kebutuhan relasi seksual, sedangkan laki-laki yang dianggap "3M" (Man-Mobile-Money)  dengan kebutuhan dan fantasi yang dimiliki bila tidak memiliki kontrol diri cenderung impulsive (bertindak tanpa berfikir panjang), melakukan transaksi seksual adalah untuk kebutuhan sesaat,  dan bila kebutuhan terpenuhi lalu pulang ke rumah membawa virus HIV, sehingga terjadilah transmisi seksual pada pasangan di rumah. 

Sekretaris I Komisi penanggulangan AIDS Kabupaten Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah M. Psi., Psikolog, menjelaskan, kontrol diri memang kembali dari diri sendiri atau individual yang perlu ditingkatkan, memang seksual dengan antisipasi kontrol diri untuk setia, tidak berganti pasangan, komunikasikan  keinginan dalam hubungan seksual.

"Laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk belajar mengomunikasikan seksualitas, memecah ketabuan demi relasi seksual yang terpenuhi secara nyaman dan aman dari virus HIV dan infeksi menular seksual," jelas Ifada.

Lalu bagaimana yang tidak memiliki pasangan, dan yang masih berpetualang, mereka diwajibkan menggunakan 'kondom' untuk pencegahan penularan HIV dan AIDS. Untuk lebih jelasnya, masyarakat bisa datang ke pusat informasi AIDS daerah yaitu Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung. Disana terbuka untuk konsultasi terkait pencegahan, penularan hingga pengobatan HIV dan AIDS agar hidup terus produktif. (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar