Ads

Senin, 23 September 2019

September 23, 2019
KORANPAGI.NET - Kenalkan 'Wayang' melalui karya lukis, khususnya pada anak-anak, Triyoso Yusuf gelar pameran tunggal di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Genteng Kali, Surabaya. Ide ini juga sekaligus sebagai bentuk kenangannya di masa kecil, Senin (23/9/2019).

Pelukis, Triyoso Yusuf (tengah)

Dalam galeri, tampak belasan lukisan jenis Dekoratif Abstrak menempel di tembok gedung milik pemprov tersebut. Dengan judul 'Ringgit Wonosalam', pameran lukisan ini berlangsung hingga Kamis (26/9/2019).

Sang pelukis, Triyoso Yusuf mengatakan, tujuannya dari digelarnya pameran tunggal ini adalah mengenalkan wayang kepada anak-anak."Ada beberapa sekolahan TK dan SMP nanti yang murid-muridnya hendak berkunjung ke galeri. Pameran ini saya lakukan memang untuk mengenalkan wayang kepada anak-anak melalui karya lukis saya ini," jelasnya.


Ringgit Purwa atau 'Wayang', menurut Triyono Yusuf adalah, merupakan kesenian yang sangat tua dari tanah Jawa. Dahulu wayang dibuat dari batu sesuai peruntukannya.

"Wa artinya wadah, yang artinya Ruh. Wayang adalah wadah ruh, tempat yang disiapkan untuk persemayaman ruh leluhur menurut keyakinan orang Jawa kuno. Karena sifat dan fungsinya yang sakral kemudian wayang berkembang seiring waktu menjadi sarana untuk memberi ular-ular atau pitutur atau pituah nasehat luhur orang zaman dulu," tukasnya.

Dalam perjalanannya pitutur yang penuh falsafah luhur itu kemudian menjadi kesenian pertunjukan yang sarat makna filosofis. Wayang pun berkembang pembuatannya ada yang dari kayu, daun, batang dan ranting, rumput ilalang, kulit binatang serta ada juga dari kain yang disebut wayang beber. Wayang yang lebih populer dibuat dari kulit lembu digapit dengan penggapit yang terbuat dari tanduk kerbau, dan dikenal sebagai wayang kulit.

"Ringgit Wonosalam ini menjadi pameran tunggal saya yang ke dua, terlahir dari kerinduan masa kecil yang terukir dalam ingatan. Dari tanah kelahiran saya di Dusun Plumpungan, Desa Galengdowo, Wonosalam, Jombang. Dulu setiap lepas petang selalu terdengar suara gamelan dari seberang rumah, orang-orang berkumpul berlatih bersama di rumah Mbah Sir. Sesekali terdengar suara suluk dalang, percakapan antar wayang diiringi Karawitan, lalu berhenti untuk saling membetulkan latihan dan berlanjut lagi, seperti itu setiap petang yang selalu saya lihat dulu," tutur Triyoso.


Seiring berjalannya waktu, sepeninggalan para pinihsepuh termasuk kakeknya, sudah jarang lagi terdengar kenangan tersebut.

"Tidak banyak yang saya tahu dari masa itu, hanya sekelumit kenangan yang memanggil hati untuk melahirkan karya lukis agar kenangan masa itu terukir abadi di hati saya," pungkasnya. (Snd)

0 komentar:

Posting Komentar