Ads

Sabtu, 01 Juni 2019

Juni 01, 2019

KORANPAGI.NET - Kejaksaan Negeri Surabaya bersama dengan pihak kepolisian hari ini hendak melakukan upaya penahanan pada Dua orang Warga Sepat Lidah Kulon, Surabaya, Jumat (31/5).


Dua orang warga tersebut ialah Dian Purnomo dan Darno. Pihak Kejaksaan hanya dapat menahan Dian Purnomo, sedangkan untuk Darno, puluhan warga berusaha menghalangi upaya paksa penahanan kejaksaan itu karena tidak ada klarifikasi jelas dari kejaksaan.
Puluhan warga yang curiga dengan upaya penahanan itu kemudian meneriaki petugas dengan teriakan 'Maling' karena dinilai sebagai upaya Penculikan
“(Yang ditahan) Dian (Cipeng) karena gak ada warga yang tahu, sedangkan Pak Darno masih aman karena keburu banyak warga yang datang," kata Supriyanto, Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian.
Sementara itu, pihak kejaksaan terlihat protektif saat hendak ditemui awak media, security yang berjaga di pintu masuk Kejari Surabaya melarang wartawan untuk bertemu dengan Jaksa.
"Media (wartawan) gak boleh ketemu Jaksa," kata Imam, Security penjaga pintu Kejari Surabaya.
Aturan tersebut menurut imam diperintahkan langsung oleh Kasi Intel Kejari Surabaya dan juga Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya."Perintah pak Kasi Intel dan Kajari Surabaya," imbuh dia.

Dikesempatan yang sama, awak media juga mendapat pengusiran dari beberapa warga yang berada di Sekitar rumah Darno, di Dukuh Sepat, Lidah Kulon, Surabaya.
Puluhan warga itu memperlihatkan raut muka tegang, sehingga siapapun yang datang akan ditanyai identitasnya.
"Benar wartawan atau Polisi ?? Wartawan atau mata-mata??," tanya salah seorang warga pada wartawan.
Sejurus kemudian terdapat lagi seorang warga yang meminta agar wartawan media ini menunjukan ID Pers Card nya.
Setelah ditunjukkan, Warga mulai memahami. Namun beberapa waktu kemudian datang lagi seseorang lelaki yang meminta agar wartawan segera pergi dari lokasi rumah Darno. Karena pihak keluarga Darno tidak berkenan ada Wartawan.
"Mohon maaf sebelumnya, pihak keluarga tidak berkenan ada Wartawan," ujar seorang lelaki pada wartawan salah satu media di Surabaya agar segera pergi meninggalkan lokasi.
Sebelumnya, pengadilan Negeri Surabaya menjatuhkan vonis 2 bulan 15 hari pada Dian Purnomo dan Darno pada Kamis (23/5/2019).
Selang beberapa hari kemudian, Darno dan Dian dikeluarkan dari Rutan Medaeng.
Majelis hakim menyatakan, kedua terdakwa dinyatakan bersalah melanggar pasal 170 KUHP tentang pengerusakan.
Atas putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian melakukan upaya hukum banding.
Darno dan Dian Purnomo diperkarakan secara hukum karena melakukan pengrusakan aset milik PT Ciputra Development Tbk di Waduk Sepat, pada 6 Juni 2018 yang lalu.
Kejadian ini bermula pada tanggal 6 Juni 2018 lalu, usai shalat tarawih warga mendengar ada aliran air cukup deras berasal dari waduk. Kemudian pada pukul 20.30 WIB, warga berkoordinasi dengan Lembaga Pemderdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Warga yang berjumlah sekitar 100 orang berbondong-bondong memasuki waduk, melalui pintu sebelah timur berdekatan dengan area PKL yang disediakan oleh pihak Ciputra.
Kemudian warga mengecek keberadaan air yang meresahkan mereka. Setelah dilihat, ternyata plat penahan air yang berfungsi sebagai pintu air terpotong secara misterius. Warga lalu menghubungi Polsek Lakasantri dan Camat Lakasantri dan pihak Ciputra yang diwakili pihak keamanannya datang ke lokasi. Mereka berkoordinasi bersama.
Akhirnya pihak Ciputra menjanjikan akan mencari plat pengganti untuk menutup air. Namun warga menolak dan minta untuk dilakukan penutupan, karena jika dibiarkan terbuka waduk akan mengering. Pukul 22.00 WIB, pihak Ciputra sepakat membuatkan pintu air namun selama dua jam pintu air tersebut tak kunjung datang.
Lebih lanjut pada pukul 24.00 WIB, warga berinisiatif menutup pintu air tersebut dengan tanah. Pada Jumat, 27 Juli 2018 empat warga Sepat Rokhim, Darno, Suherna dan Dian Purnomo dilaporkan oleh pihak Ciputra ke Polda Jatim atas dugaan memasuki pekarangan orang tanpa izin dan dugaan perusakan.
Tiga di antaranya Dian Purnomo Rokhim dan Suherna dipanggil menjadi saksi, lalu Kamis, 7 November 2018 Dian Purnomo dan Darno ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan melakukan perusakan properti Ciputra di waduk berupa pintu. (Jun/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar