Ads

Kamis, 09 Mei 2019

Mei 09, 2019
KORANPAGI.NET - Sidang dengan terdakwa ASJ, hakim tegur Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fadhil lantaran mengulang-ulang terus pertanyaan saksi

"Udah, yang (sudah) ditanya jangan ditanya lagi, point-pointnya aja, sudah dijelaskan tadi oleh saksi kok diulang-ulang lagi," tegur hakim ketua Rokhmad pada Fadhil, di Gedung Pengadilan Tipikor Surabaya, Senin (6/5).
Bukan hanya sekali Fadhil ditegur oleh hakim, bahkan dia berulang-ulang didamprat hakim karena menanyakan pertanyaan yang sama.
Fadhil dalam perkara ini menanyakan terkait pertemuan antara Dea Winni, mantan anak staf dari terdakwa Agus Setiawan Jong. Dengan saksi H. Darmawan yang merupakan wakil Ketua DPRD Kota Surabaya.
Pertanyaan Fadhil tersebut sebelumnya telah dilontarkan oleh Kasi Pidsus Kejari Tanjung Perak, Dimaz Atmadi. Namun oleh Fadhil ditanyakan kembali bahkan diulang-ulang sehingga membuat hakim geram.
Darmawan dalam menjawab pertanyaan Dimaz dengan terang menyatakan, kedatangan Dea adalah untuk menawarkan bantuan dalam mengumpulkan proposal dari daerah pilihan (Dapil) atau konstituen milik Darmawan.
Dimaz kemudian mempersoalkan masalah proposal yang disalurkan RT RW melalui Dea, dia menanyakan dasar apa Dewan menerima proposal yang diberikan oleh Dea padahal proposal itu semestinya harus didapatkan dari RT RW langsung.
"Saya melihat proposal itu pengajuannya adalah dari RT RW, [Bukan Dea]," Jawab Darmawan.
Kuasa hukum ASJ, Hermawan Benhard Manurung kemudian turut menayakan Keterangan saksi akan pertemuan antara dia dengan Dea Winni, sewaktu ia menyerahkan proposal di gedung DPRD.
Benhard menanyakan terkait proposal proposal yang diberikan Dea tersebut apakah ada prioritas khusus, atau ada intervensi dari Dea supaya anggota Dewan memprioritaskan proposal itu supaya dicairkan.
Pertanyaan Benhard itu dijawab dengan tegas oleh Ratih Retnowati anggota Dewan yang juga dijadikan saksi dalam perkara ini, Ratih menegaskan bahwa Dea tidak pernah mengintervensi masalah proposal. Selain itu, dewan juga tidak berwenang untuk mencairkan pengajuan dana hibah yang mohonkan RT RW itu.
"Tidak pernah, karena bukan wewenang kami," kata Ratih menjawab pertanyaan Benhard.
Jawaban Ratih kemudian di Amini oleh anggota dewan yang lain. Mereka dengan kompak menyatakan tidak ada prioritas khusus untuk proposal-proposal yang diberikan oleh Dea. Sebab, semua proses pelaksanaan baik itu verifikasi maupun pencairan berada ditangan pengelola anggaran yakni Pemkot Surabaya.
Dari keterangan para saksi tersebut Benhard menyimpulkan, dakwaan jaksa yang menyatakan ASJ mengkoordinir pelaksanaan Jasmas bersama enam anggota dewan telah game over.
"Game Over, bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali ini saksi yang dihadirkan Jaksa malah berbalik mematahkan dakwaaan jaksa," tandas Benhard.
Sidang ke delapan kalinya ini, JPU menghadirkan lima orang saksi yang semuanya berasal dari unsur anggota Dewan. Mereka diantaranya H Darmawan, Ratih Retnowati, Dini Rijanti, Binti Rohmah dan Saiful Aidy.
Dari semua keterangan saksi yang diperiksa dipersidangan tidak ada satupun keterangannya dapat memberatkan Agus Jong, sebaliknya keterangan para saksi terkesan mematahkan dakwaan jaksa. (Jn/Yud/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar