Ads

Selasa, 21 Mei 2019

Mei 21, 2019

KORANPAGI.NET - Petugas BPK-RI, Ahmad Adjam Sempurna Djaya bungkam seketika saat dia dicerca pertanyaan oleh kuasa hukum Agus Setiawan Jong (ASJ). Briyan Emanurio.



“Dia tadi menjustice tanpa adanya kata diduga akan penyimpangan proposal. Tapi saat kami perdalam dan mempertegas frasa kata (penyimpangan Proposal) dia (Adjam) tidak mampu menjawab.”papar Briyan, usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Sidoarjo, Jatim, Senin (20/5/2019).
Diterangkan didalam persidangan, Adjam yang dihadirkan sebagai ahli oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjuctice bahwa ada tiga penyelewengan laporan dalam pelaksanaan dana hibah pemkot Surabaya berupa Jasmas tahun anggaran 2016.
Yang pertama ialah laporan penyimpangan proposal, kemudian penyimpangan evaluasi satuan barang di Pasaran dan yang ketiga tentang penyimpangan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ).
Dari tiga laporan yang diklaim oleh Adjam sebagai tindakan penyelewengan tersebut, menurut Briyan ketiga-tiganya tidak ada hubungannya langsung dengan terdakwa ASJ.
Adapun demikian, Petugas BPK-RI itu langsung dicerca beberapa pertanyaan oleh Briyan.
“Anda tadi mengatakan ada penyimpangan proposal, yang saya tanyakan, membuat proposal sendiri atau dibuatkan. Apakah itu penyimpangan? Penyimpangan proposal itu seperti apa? Dan diatur dimana? “tanya Briyan yang respon oleh ahli dengan jawaban bertele-tele.
Briyan menandaskan, apa yang disebut oleh petugas BPK-RI sebagai penyimpangan proposal tersebut tidak jelas konotasinya. Bahkan disebutnya sebagai klaim asal-asalan. Sebab tidak diatur didalam peraturan manapun.
Adjam kemudian menerangkan, terdapat kerugian Negara sebesar Rp 4,9 Miliar. Perhitungan tersebut dinilai kuasa hukum ASJ mengada-ada. Sebab tidak memuat dengan rinci akan selisih harga satuan barang yang dilampirkan dalam laporan BPK.
Setelah digali, yang menjadi acuan BPK dalam melakukan penilaian harga material satuan barang Program Jasmas berasal dari perhitungan ahli konstruksi ITS Surabaya.
Kemudian, perhitungan ahli dari ITS itu dijadikan patokan dan dijadikan perbandingan oleh BPK. untuk parameter akan nilai belanja satuan barang milik Agus Jong.
Lebih jauh BPK melakukan audit diluar kewenagan sebagai badan pemeriksa keuangan, yakni memeriksa belanja modal Pabrik Agus Jong, termasuk belanja barang, ongkos produksi, upah Buruh bahkan ongkos kirim barang-barang Jasmas.
Perhitungan tersebut disesuaikan dengan dana hibah kucuran Pemkot kepada RT RW yang telah dibelanjakan ke Pabrik Agus Jong antara lain, Sound Sistem, Terop, Meja, Kursi, dan Gerobak sampah.
Ketua tim pembela ASJ, Hermawan Benhard Manurung, mengaku geli dengan cara perhitungan petugas BPK itu.
“Geli, harga barang barang jasmas itu nilainya ditentukan oleh BPK, selebihnya dari harga itu dianggap korupsi. Jadi pabrik klien kami ini selaku perusahaan Provit bandrol harga barangnya disalahkan. perusahaan klien kami ini tidak boleh untung. Harus pas. Kalau begitu ya sama dengan kerja bakti.”kata Benhard.
Seusai sidang, Adjam berkelit saat dicerca berapa pertanyaan oleh wartawan. Yakni terkait selisih harga satuan barang yang dikatakannya merugikan keuangan negara sebesar Rp. 4,9 miliar.
“Sama penyidik (JPU) aja ya, soalnya ini (sidang) belum inkracht takutnya salah.”dalih Adjam.
Adjam kemudian menerangkan didalam proposal pengajuan dana hibah yang dimohonkan oleh 781 RT RW di Surabaya, semuanya tidak disertai list atau daftar satuan harga barang.
Pemkot Surabaya, kata Adjam harusnya melampirkan daftar Standard Satuan Harga (SSH) barang kepada para pemohon hibah.
Pernyataan petugas BPK itu dibantah oleh mantan Kepala Bagian Pemerintahan kota Surabaya, Edy Chritijanto. Menurut Edy, para pemohon hibah sudah melakukan survei harga barang dipasaran. Adapun kalau harga pembelanjaan itu lebih rendah dari uang hibah yang diterima. Penerima hibah wajib mengembalikan sisa uang hibah tersebut kepada Pemkot Surabaya.
Edy menegaskan. Pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal pelaksanaan Jasmas ini adalah penerima hibah.
“Sesuai dengan Perwali Nomer 25 tahun 2016. Penanggung jawab secara formil dan materiil adalah penerina hibah.”tandas Edy. (Rp/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar