Ads

Rabu, 29 Mei 2019

Mei 29, 2019
KORANPAGI.NET - Sebuah bangunan bersejarah milik kota ini akan hilang dalam hitungan hari kedepan. Benteng dan Bunker yang akrab disebut 'Gudang Pluru' di kaki Jembatan Suramadu bakal jatuh ke pihak swasta setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan Ruislag (tukar guling), Rabu (29/5/2019).
Ist
Dilansir harian pagi SURYA dan media online TribunJatim.com, pada Kamis (23/5/2019) pekan lalu, "Benteng dan Bunker di Kaki Suramadu Jatuh ke Pihak Swasta", menjadikan topik buram bagi masyarakat pecinta sejarah.
Demi tuhan, bila para pahlawan kita melihat kenyataan ini pasti akan mengutuk keras Pemkot, khususnya Wali Kota atas perbuatannya yang dengan sengaja melenyapkan tempat bersejarah dari perjuangan 'Arek-Arek Suroboyo'.
Satu demi satu saksi bisu gerilya para pejuang 'Arek-Arek Suroboyo' diubah, dihilangkan dan bahkan mungkin tak dikenang lagi. Pilu memang, tapi dengan berat hati kabar tragis ini harus tersampaikan ke publik.
Ist
Di ulang tahunnya yang ke 726, pada 31 Mei tahun ini, Surabaya tercinta harus menerima kado pahit, yakni lepasnya Benteng Kedung Cowek ke tangan swasta. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, masyarakat Surabaya pencinta sejarah, generasi yang mengalir darah pejuang, harus menerima kenyataan menyedihkan ini.
Menurut sejarah, Benteng atau 'Batere' Pertahanan Kedung Cowek merupakan sarana militer yang dibangun oleh Belanda pada awal abad 20 guna persiapan perang dunia 2 di Asia Timur Raya (Pasifik) untuk menghadapi militer Jepang.
Dalam peta Surabaya tempo dulu, benteng ini tidak tercantum karena fungsinya sebagai obyek militer yang bersifat rahasia. Benteng Kedung Cowek juga mempunyai catatan sejarah perang 10 November 1945, yang merupakan cikal bakal berdirinya Batalyon Arhanudse 8. Benteng ini sempat diduduki oleh 'Laskar Sriwijaya' yang mahir menggunakan artileri pertahanan udara (bekas Heiho) dalam menangkis dan menyerang pertahanan Inggris yang berada di Tanjung Perak. Setelahnya, benteng ini difungsikan sebagai gudang amunisi militer Indonesia dan ditutup kegunaannya pada akhir 90-an.
Apabila mengacu pada UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang tercantum pada Pasal 5 dengan bunyi "Benda, bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria : Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan, dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa".
Jika merujuk pada Undang-Undang tersebut, dapat disimpulkan sendiri bahwa status apa yang tepat untuk Benteng Kedung Cowek (Benteng’e Arek-arek Suroboyo).
Ist
Menanggapi hal tersebut, salah seorang pegiat sejarah, hanya bisa berdoa sembari bertanya-tanya dalam hati 'Duso Opo Suroboyo' (Dosa Apa Surabaya).
"Saya pun berandai-andai kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Benteng Kedung Cowek, setelah di Ruislag (tukar guling) kini Benteng Kedung Cowek dimiliki oleh perusahaan swasta berskala nasional. Statusnya yang belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, memudahkan pihak swasta untuk membongkarnya. Sebenarnya kabar Ruislag ini sudah lama tercium dan mengapa penanganannya terkesan lambat sehingga benteng bersejarah ini lepas begitu saja. Akhir-akhir ini sering dilakukan pembersihan dan eksploitasi di area Benteng Kedung Cowek yang sangat menguntungkan pihak swasta. Apakah dalam project itu ada karyawan perusahaan swasta tersebut yang membaur dengan kelompok-kelompok atau bersih-bersih ini ada bayarannya agar mudah melipat Benteng Kedung Cowek. Wallahualam," tebak Nur Setiawa, Komunitas Pecinta Sejarah Surabaya (Historical Community).
Ia juga marasa bahwa posisi Benteng Kedung Cowek sangat strategis, berada di Selat Madura dan pesisir Surabaya. Tak jauh dari akses Jembatan Suramadu dan Tanjung Perak jika melewati perairan. Apalagi jauh dari pemukiman penduduk, dalam kajian amdal sangat cocok untuk mendirikan pabrik.
"Kita sebagai Arek Suroboyo merasa kecolongan, tiga tahun yang lalu disaat yang sama seperti sekarang, Bangunan Cagar Budaya Rumah Siar (Radio Pemberontakan) Bung Tomo yang terletak di Jalan Mawar Nomor 10, juga dibongkar atas dalih bisnis," sambungnya.
Antara sedih, dongkol dan marah lantaran dirasa tatanan Kota Surabaya telah dirusak oleh orang-orang yang mementingkan kantong pribadi. Hanya kata 'Jancok' saat itu yang bisa terlontar dari mulut para aktifis sejarah Kota Pahlawan untuk para penguasa. (Ki/Snd/Red)

0 komentar:

Posting Komentar