Ads

Senin, 22 April 2019

April 22, 2019
1
KORANPAGI.NET - Tanggapi klinik yang mengkemoterapi pasien sampai meninggal, DPC Pagar Jati Indonesia Kota Surabaya menduga adanya perbuatan melawan hukum (pidana). Sumber mengatakan pasien sebelumnya di RS HU dan dirujuk ke klinik MDM, Senin (22/4/2019).


Dari keterangan asisten pribadi (aspri) dokter yang merawat HS (pasien meninggal), SLA, bukti transfer uang senilai Rp 13 juta itu merupakan uang talangan untuk pasien.

"Bukti transfer itu uang saya untuk menalangi biaya perawatan pasien," ujarnya kepada awak media.

Sementara, pihak keluarga tidak membenarkan bahwa bukti transfer tersebut adalah uang talangan SLA.

"Biaya kemoterapi itu saya transfer langsung ke SLA, empat kali saya transfer sesuai dengan bukti transfer itu, bukan uang talangan dari SLA," tutur sumber.

Dijelaskan pula, sebelum pasien meninggal, sempat dirawat di rumah sakit HU. Kemudian dirujuk ke klinik MDM dan menjalani kemo hingga akhirnya meninggal dunia.

"Awalnya bapak dirawat di RS HU, terus gak tahu kenapa kok dirujuk ke klinik sampai menjalani kemoterapi di klinik itu," jelasnya.

Terkait hal ini, Ketua Ormas Pagar Jati Indonesia Kota Surabaya, Bagus Yudianto, SH, menanggapi, bahwa pihaknya menduga adanya unsur kesengajaan dalam praktek sehingga menyebabkan kesehatan pasien tak tertolong.

"Mencermati peristiwa ini, kami menduga adanya pelanggaran praktek dokter saat menangani pasien. Harusnya dokter yang menangani itu tahu, bagaimana penanganan yang layak. Apa lagi dokternya seorang Profesor dan guru besar dari universitas ternama, sangat disesalkan hal ini terjadi," katanya.

Langkah lebih lanjut, sambung Bagus, Pagar Jati segera melayangkan surat untuk klinik dan dokter yang terkait. Menurutnya, dalam kasus ini yang perlu disikapi bukan ada atau tidaknya pengaduan dari pihak pasien, namun secara teknis praktek dokternya saat itu bertendensi ada kepentingan pribadi.

"Kami segera layangkan surat ke pihak klinik dan dokter yang terlibat, serta dinas dan pihak berwajib, karena ini mencakup kesehatan masyarakat, kalau dibiarkan bisa memakan korban lagi," tegas Alumnus Unair 2005. (Yd/Ian/Snd)

1 komentar: