Ads

Senin, 08 April 2019

April 08, 2019
KORANPAGI.NET - Makam Pedukuhan Astana Gedong, Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, merupakan makam para keturunan Majapahit. Sampai sekarang, banyak masyarakat dari luar daerah yang berziarah di makam kuno tersebut, Senin (8/4/2019).

Sukani saat membersihkan makam Wali Maghrib

Juru kunci makam, Sukani (67), sudah 17 tahun merawat makam ini. Ia menjelaskan, Makam Pedukuhan Astana Gedong merupakan cagar budaya, serta ada sejak sebelum masa penjajahan Belanda.

"Lihat, salah satu makam terlihat tulisan huruf Jawa yang terukir di batu nisan, tertera tahun 1892, ini sudah tua sekali. Disini untuk makam leluhur makam keluarga keturunan Majapahit," jelas juru kunci makam yang akrab disapa Mbah Sukani.

Makam Tumenggung Tawengan

Dulu belum ada lampu, sambungnya, tapi sekarang pemerintah sudah memfasilitasi dengan penerangan lampu. Sukani juga menuturkan, bahwa di makam tersebut ada dua tokoh yang kerab didatangi masyarakat untuk ziarah.

"Masyarakat yang datang biasanya berziarah ke makam Tumenggung Tawengan dan makam Wali Maghrib. Meski malam hari, ada saja peziarah yang datang, Alhamdulillah sekarang sudah ada lampu, tidak seperti dulu," paparnya.

Sebagai juru kunci makam, Mbah Sukani mendapat gaji dari pemerintah, kadang ia juga mendapat uang tambahan dari peziarah. Penghasilan tersebut digunakan Sukani untuk kebutuhan hidup serta berobat istrinya yang sakit.

Makam keturunan Majapahit

Saat Koran Pagi memasuki tembok (area) makam yang terbuat dari batu bata dan sudah berlumut, udara terasa sejuk, hembusan angin yang semilir menerpa pepohonan yang rindang, menambah suasana tenang di dalam makam.

Diketahui, masyarakat yang datang untuk berziarah, bukan hanya penduduk setempat saja, melainkan dari luar daerah juga, diantaranya dari Malang, Jember, Banyuwangi, Surabaya, Banten dan Ponorogo. (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar