Ads

Rabu, 12 Agustus 2020

Agustus 12, 2020
Eksekusi Tonggak Ngorak Kayu Nogosari

KORANPAGI.NET - Sebuah Pohon Nagasari di Komplek Makam Raden Djoko Lemboeroe atau dikenal dengan sebutan Raden Ketawengan yang berada di Komplek Makam (Ndaleman) Situs Astono Gedong atau Sentono Gedong, Dusun Sentono, Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, merupakan pohon langka yang dipercaya menyimpan banyak manfaat, khususnya dalam hal magis, Rabu (12/8/2020).

Komplek makam yang luas dan berada di pojok jalan memilki tiga sebutan yaitu disebalah selatan atau depan disebut 'Pendopo', ruang tengah disebut 'Kampung' dan paling utara disebut 'Ndaleman'.

Tampak di lokasi banyak pohon langka berdiri kokoh seperti pohon Nagasari tumbuh subur disekitar pemakaman tersebut. Dari kepercayaan masyarakat, khususnya orang Jawa, pohon tersebut memiliki banyak keistimewaan, karena itu keberadaan pohon Nagasari sangat dijaga dan lestarikan.

Terkait video viral di medsos (Youtube) dengan pengunggah atas nama Sibolang Batuan, di situ menceritakan perjalanan  dari awal sang pengambil video mengeksekusi pohon sakral ini.

Dalam isi video yang berdurasi 10 menit yang disertai keterangan (caption) satu persatu dijelaskan semua, bahwa makam yang dipercaya sebagai makam Joko Tingkir, Tonggak Ngorak Kayu Nogosari tepat disamping sisi kanan Tumenggung Tawengan.

Sesuai yang dijelaskan dalam isi video, bahwa usia Tonggak Kayu Nogosari ini diperkirakan lebih dari 300 tahun, serta berdasarkan bukti sejarah yang diketemukan dan tercatat di Trowulan.

Salah satu orang laki-laki paruh baya yang mengangkat pohon Nogosari dalam video menjelaskan bahwa Tonggak Kayu Nogosari merupakan kayu langka sebagai ciri khas Makam para Raja Islam di Jawa, dari lintas kerajaan mulai era jaman Hindu, Budha, kerajaan Kadiri, Singosari, Majapahit sampai Kerajaan Mataram.

Eksekusi Tonggak Ngorak Kayu Nogosari

Kasi Pelestarian Cagar Budaya Musium dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Winarto menyampaikan, kondisi pohon tersebut sudah mau roboh dan tidak berada dalam kawasan makam kerajaan.

"Saya sudah menghubungi pihak Agus sebagai juru pelihara (Jupel) Makam Astono Gedong. Dirinya mengatakan alasan menebang pohon nogosari sudah roboh dan satunya doyong. Dan pohon tersebut diwilayah pemakaman umum, jadi tidak di dekat makam Raden Ketawengan. Pihak jupel juga sudah mendapat izin dari pemerintah desa untuk menebang pohon," katanya saat dikonfirmasi Koran Pagi.

"Menurut Agus saat saya tanya, seorang penebang pohon kayu itu diberi 150 ribu rupiah oleh pembeli. Setelah ditebang, saya tidak tahu keberadaannya, ya tidak apa-apa kalau diambil," ujar Winarto.

Pasca hilangnya pohon yang dalam video terlihat tiga orang sedang mengambilnya, pihak pemerintah Desa Sukodono memberi tanda tulisan huruf di pohon-pohon sakral yang ada di kawasan makam para raja. Hal itu dilakukan agar tidak ada yang menebang atau mengambil pohon-pohon serupa kembali.

"Kami juga sudah memberi sanksi teguran kepada Agus dan yang ikut didalamnya untuk tidak mengulangi perbuatannya," sambungnya.

Sementara, Korwil Jupel BPCB Jatim wilayah Tulungagung-Trenggalek, Drs Hariyadi mengatakan, rasa kekesalannya kepada Jupel makam Astono Gedong yang tanpa koordinasi telah mengambil pohon beragam keistimewaan tersebut.

"Kami kecewa karena apa yang dilakukan Agus tanpa sepengetahun kami dalam merobohkan pohon, salah satu penebangnya sudah di beri upah Rp150 ribu. Dulu juga pernah di beri upah oleh seorang warga di situ sebesar Rp500 ribu," paparnya.

Terkait viralnya video, lanjutnya, pengambilan pohon tersebut sudah diselesaikan dengan Pemerintah Desa. (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar