Ads

Senin, 03 Agustus 2020

Agustus 03, 2020
Baliho Eri Cahyadi bersama Tri Rismaharini

KORANPAGI.NET - Menjelang hari penentuan rekomendasi Cawali-Cawawali dalam Pilwali Surabaya tahun ini, sejumlah baliho Eri Cahyadi bersama Bu Risma bertebaran di sejumlah ruas jalan protokol maupun di perkampungan Surabaya, Senin (3/8/2020).

Salah satunya di Jalan Kertajaya, reklame bergambar Eri Cahyadi dan Wali Kota Tri Rismaharini itu diduga dipasang relawan Eri Cahyadi, hal itu diperkuat dengan terteranya tulisan @relawanericahyadi.

Seperti yang terpantau dilapangan, baliho tersebut bertuliskan "Eri Cahyadi Birokrat Berpengalaman, Yang Dipercaya Dan Didukung Bu Risma, JELASSS TERBAIK UNTUK KOTA SURABAYA, #EriPenerusRisma".

Reklame yang sama juga ditemukan di titik yang berbeda, yang juga terpasang di kawasan Kertajaya. Lagi-lagi, Eri dalam baliho ukuran besar itu berduet dengan Wali Kota Risma.

“Visi Sama, Mimpi Serupa Lanjutkan Harapan Surabaya. #EriPenerusRisma, Birokrat Berpengalaman," tulis dalam di baliho.

Munculnya reklame bergambar Eri yang mengklaim sebagai penerus Tri Rismaharini ini memantik sejumlah pertanyaan. Karena seperti diketahui, Eri saat ini statusnya masih Pegawai Negeri Sipil alias Aparatur Sipil Negara (ASN).

Pengamat Politik, Surokim Abdussalam mengatakan, dalam strategi komunikasi hal itu termasuk transfer of device, di mana kandidat mencoba untuk mendapat Tri Rismaharini effect dalam kontestasi.

"Dalam konteks marketing politik, itu termasuk efektif, khususnya untuk menggaet pemilih fanatis atau strong voters-nya Bu Risma. Menurut saya, itu spanduk sosialisasi menuju Pilkada karena arah pesannya untuk kontestasi Pilwali. Dan sepertinya Bu Risma juga tidak keberatan karena gambar sejenis juga sudah sempat beredar di tempat lain," kata Surokim seperti dikutip Memorandum, Senin (3/8/2020).

Mengingat masih sebagai ASN, lanjut Surokim yang juga Peneliti Surabaya Survey Center (SSC) ini, tentu dengan beredarnya baliho dukungan untuk menggantikan kedudukan Risma dalam Pilwali menuai pro dan kontra di masyarakat.

"Memang sih debatable karena posisi Pak Eri yang PNS aktif terikat oleh aturan yang lebih ketat soal keterlibatan dalam kontes Pilkada. Jika sudah yakin ikut kontestasi, menurut saya lebih bijak jika mengambil cuti sehingga spanduk-spanduk begitu tidak menimbulkan polemik pro-kontra di mata masyarakat. Seorang birokrat ikut dalam kontestasi Pilkada menurut saya sah-sah saja gak ada larangan, asal sesuai dengan aturan yang ada. Atau mungkin saja Mas Eri sedang menunggu kepastian rekomendasi dari partai juga serba mungkin dalam situasi ini," ujar Dekan Fakultas Sosial dan Politik Universitas Trunojoyo ini.

Menurutnya, saat ini yang menarik untuk ditelusur adalah siapa yang memasang baliho itu.

"Relawah kah? Pak Eri kah? Atau siapa? Sehingga bisa dipastikan asal muasalnya. Mengingat sering disampaikan Pak Eri dan tim tidak merasa memasang baliho seperti itu. Nah, dari sini situasi menjadi pelik. Terlepas dari pro-kontra, menurut saya, baliho itu muncul seiring dengan kian dekatnya rekomendasi PDIP dan kandidat butuh media dan sarana untuk meningkatkan elektabilitasnya," pungkasnya.

Menurut  Murdi Santoso, selaku Aktifis LSM LMP3 (Lembaga Monitoring Pendidikan dan Pelayanan Publik) Jatim mengatakan, bahwa posisi Eri Cahyadi sebaiknya tetap sebagai Kepala Bappeko Pemkot Surabaya (ASN) saja dan jangan mencalonkan diri sebagai Calon Walikota ataupun Calon Wakil Walikota Sebab akan tetap Simalahkama.

"Apabila maju sebagai Calon Walikota akan tetap berat untuk mendapatkan rekomendasi dari PDIP, sebab Eri Cahyadi bukanlah Kader Internal dari PDIP yang selalu mengutamakan kader internalnya untuk maju di setiap Pilkada, dan Eri hanyalah birokrat anak emas Risma saja. Sedangkan apabila maju sebagai Calon Wakil Walikota juga sangat tidak layak, karena posisinya sebagai kepala Bappeko cukup mentereng. Maka menurut Saya lebih afdol dan pantas kalau Eri Cahyadi tetap berkarir sebagai ASN saja, mengingat usianya juga masih muda," ujar Murdi. (Yd/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar