Ads

Kamis, 13 Agustus 2020

Agustus 13, 2020
Dr. Sri Setiadji

KORANPAGI.NET - Berbagai harapan, asumsi, analisis dan pernyataan dari berbagai strata sosial telah mewarnai media cetak dan media sosial terkait kontestasi Pilwali Kota Surabaya. Mulai dari partai pengusung sampai sodok figur bakal calon walikota, dengan pertanyaan benarkah pilwali yang sosok figur yang menjadi penentu. 

Dari berbagai media, gambar atau foto yang terpasang di berbagai sudut kota, itu sebagai indikator para bakal calon atau kontestan dalam mengenalkan diri pada masyarakat. Dengan maksud agar menjadi figur yang menarik dan menjadi dikenal dalam mayarakat.

Hal ini menarik, karena bakal calon yang sudah muncul sekian bulan secara terus menerus menyapa masyarakat Surabaya dengan model dan formula yang bervariasi. Model dan formula yang bervariasi bagaikan strategi dalam menarik simpati masyarakat dengan metodologi dan pendekatan yang dipandu oleh tim. Tentu progres, Out Put, Out Come menjadi terukur dengan tingkat popularitas dan elektabilitasnya. 

Ada beberapa calon yang langsung  turun kampung menyapa masyarakat, dengan berbagai strategi dan model. Apakah ini pencitraan?, apapun jawabnya itu sah-sah saja, asal tidak ada konflik kepentingan. 

Satu hal yang menjadi momen dan secara tepat telah dilakukan oleh salah satu bakal calon dengan sebutan MA. Dimana situasi ini (Pandemi Covid-19) sangat menguntungkan, karena MA dapat melakukan interaksi sosial, tepat sasaran, tepat situasi dalam situasi dan kondisi ini.

Pertanyaanya, kenapa demikian, karena dalam situasi ini semua terbatasi dalam interaksi sosial, sedangkan MA dengan kesungguhanya ingin memimpin kota pahlawan ini sudah dengan leluasa melakukan interaksi dengan warga baik Pra dan Pasca, maupun New Normal Pandemi Covid-19.

Situasi ini yang tidak diperhitungkan oleh bakal calon dari partai pengusung yang lain, dalam tanda petik PDIP. Dari berbagi sumber media dalam menentukan bakal calonnya  masih terjadi dinamisasi antara kader dan birokrat.

Tanpa mengesampingkan Kota Surabaya sebagai basis suara militan PDIP, namun bisa dilihat secara faktual bagaimana saat dalam situasi normal saja, hasil Pilgub kemarin. Artinya, kalkulasi secara politis sebutan basis militan bisa terlena saat normal, apalagi saat yang tidak normal dengan situasi sekarang. Tentu PDIP punya metodologi dan strategi yang sudah disiapkan oleh Tim Desk Pilkada, namun waktu dan situasi yang tidak normal adalah variable yang sangat menentukan.

Satu langkah awal PDIP pasti akan mengeluarkan jago dalam kontestasi ini yang mempunyai tingkat popularitas dan elektabilitasnya paling tidak sama atau lebih tinggi dari MA. Disisi lain, masyarakat membaca dalam berbagai media, bakal calon yang akan mendapat rekom sebenarnya sudah banyak diketahui, yaitu tadi, birokrat atau kader. Artinya mengapa dan seakan membuat teka teki dalam ketetapan rekomendasi (benarkah terjadi tarik ulur fraksi yang ada dalam konteks Pilwali ini). 

Ekspektasi masyarakat Surabaya menanti bakal calon PDIP ibarat melihat orang bermain catur, begitu beraninya PDIP seakan memberi kesempatan (ngepur istilahnya) pada MA untuk melakukan beberapa langkah mendahului dalam bermain catur ini. Benarkah dan begitu yakinkah bakal calon PDIP sebagai Grand Master, sehingga langkah berapapun dan langkah apapun yang sudah dilakukan MA akan di Skak Star, Skak Benteng atau Skak Mat. 
Atau malah akan terjadi sebaliknya, begitu bakal calon PDIP ditetapkan, justru MA akan melakukan Skak Mat?. Belum lagi rahasia umum yang terjadi, bagaimana relasi hirarki birokrasi antara pemkot dengan pemprov yang tidak harmonis. Hal ini dapat berpengaruh pada bakal calon PDIP dalam kontestasi Pilwali Surabaya.

Ada juga sumber informasi, jikalau bakal calon PDIP dari bitokrat, dimungkinkan ada pergeseran dan bahkan perubahan dalam lingkup ASN untuk menentukan pilihanya. Dinamika ini bisa menjadi fakta, karena bakal calon dari birokrat tidak se-Level Tri Rismaharini. 

Kalaupun calon dari internal kader tidak mencari dan memperhitungkan pasangan calon wakil, sepertinya juga ada hambatan yang signifikan. Hal ini berdasarkan pengalaman pada Pilgub kemarin, dan juga karena masih adanya faksi (kalau berita ini benar).

Sisa waktu yang tersedia, figur bakal calon yang masih resisten terhadap konstituen, dan ditambah situasi pandemi Covid-19, sepertinya sebuah jalan liku yang luput dari perhitungan, dan kalkulasi politik dari fungsionaris jajaran DPC PDIP sebagai liding sektor yang punya hajad dalam PilWali.

Dalam asumsi dan kalkulasi politik secara obyektif, berangkat dalam space dan waktu yang bersama saja Kontestasi Pilwali antara bakal calon PDIP dan MA akan berimbang. Artinya MA adalah Bakal Calon dalam Pilwali Surabaya yang punya potensi dan mampu, karena profesi yang diemban dalam menjalankan amanah dan pengalamannya, sehingga dengan modal itulah MA menjadi calon yang prospektif dan mumpuni serta menjadi ekspektasi warga Surabaya.

Disisi lain mungkinkah Bakal Calon PDIP ada yang prospektif dan dapat memberi ekspektasi bagi warga Surabaya, Semoga saja, karena dalam Internal PDIP sendiri seakan terkungkung pada posisi indikator 'Bu Risma' sebagai ukuran dalam menentukan bakal Calon.

Penulis : DR. SRISETYADJI, SH.MH

0 komentar:

Posting Komentar