Ads

Kamis, 10 Oktober 2019

Oktober 10, 2019
KORANPAGI.NET - Temuan kasus HIV dan AIDS dalam akumulasi data kasus dalam 5 tahun terakhir ini telah mempercepat sebanyak  1436 kasus, sedangkan kumpulan data mulai tahun 2006 hingga September 2019 sebanyak 2560 kasus yang terinfeksi HIV dan AIDS di Kabupaten Tulungagung, Kamis (10/10/2019).

Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi, Psikolog

Sekretaris I Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi,  Psikolog menyampaikan 98 persen kasus HIV dari faktor resiko transimisi seksual yang artinya penularan dari hubungan seksual yang beresiko, berganti pasangan. 

"Transmisi seksual tidak sama dengan transaksi seksual, misalnya ketika di temukan pada ibu rumah tangga 'penerima posive' dalam hubungan seksual dengan suaminya yang telah melakukan transaksi seksual," ungkapnya.

Beragam transaksi seksual menjadi siklus yang tak mudah dipotong atau diputus rantainya karena banyak faktor yang melatar belakangi seperti transaksi seksual yaitu seksual lewat online atau offline yang beragam modelnya.

"Konteks relasi seksual merupakan ruang privacy individual dimana kontrol diri menjadi pemeran efektif dalam pencegahan HIV dan AIDS. Secara program mitigasi dampak," paparnya.

Ketika seseorang tidak dapat atau tidak mampu menahan dirinya (tidak mampu setia/absen seks), sebab jauh dari pasangannya atau tidak memiliki pasangan, gunakan 'kondom' sebagai alat pencegahan agar tidak terjadi transmisi seksual atau penularan seksual. 

Memecah ketabuan pada pasangan resmi pola komunikasi terbuka, seperti disarankan oleh Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi, Psikolog agar relasi seksual diperbincangkan dalam pemahaman kebutuhan pasangan.

Fantasi seks yang menghinggapi pria dalam sehari ada 30 sampai 40 kali, hal ini di karenakan hormon dopamin otak. Sedangkan kasus ibu rumah tangga yang murni dirumah atau bekerja dalam lembah domestik terus naik tajam di karenakan ibu rumah tangga tidak mengetahui seks, sehingga relasi seksual terjadi pada laki-laki berdasar pada kebutuhan.

Budaya 'Patriarkhi' laki-laki berdasar yang menganggap dirinya gagah, wajar, gentle (lanang tenan), ketika memiliki relasi seksual di luar, yang  bukan  pasangan resmi yaitu berselingkuh, nikah siri dan kawin kontrak. Tersirat hak istimewa laki-laki serta menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki.

Gairah seksual pria disebut sangat mudah dipicu dibanding wanita, meski hal itu tidak sepenuhnya tepat, Pria dan Wanita merasakan gairah seksual secara berbeda.  Perbedaan tersebut ada pada cara kerja otak dan organ tubuh pria dan wanita terhadap rangsangan seksual. (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar