Ads

Rabu, 02 Oktober 2019

Oktober 02, 2019

KORANPAGI.NET - Kritisi Sistem Zonasi, pelajar dari lima sekolahan 'terdampak' ini gelar even seni yang kreatif di Galeri Prabangkar, Dewan Kesenian Jawa Timur, Jalan Gentengkali, Surabaya, Rabu (2/10/2019).

The Show of Manuver Zonasi merupakan pameran pertama seni rupa siswa-siswi dari lima sekolahan di kota ini. Uniknya, masing-masing sekolahan bukan sekolahan khusus seni, melainkan sekolahan menengah umum yang terdampak zonasi dan terus eksis menyuarakan perlawanan terhadap pengempu kebijakan (Kemendikbud), karena penerapan zonasi dinilai kurang soaialisasi sehingga menimbulkan kekecewaan masyarakat luas.


Menilik maksud dan tujuan penerapan sistem zonasi, namun hal tersebut faktanya tidak tepat sasaran, bahkan menimbulkan polemik serta ketidakpuasan di masyarakat.

Kepada Koran Pagi, Ketua Panitia Student Fine Art Exhibition, Arsya Denanda mengatakan, pameran ini bukan sekedar pertunjukan karya seni, tapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan yang ditimbulkan dari zonasi.

"Acara ini adalah yang pertama kami gelar, dan intinya, ini bukan hanya sekedar pameran karya siswa, namun juga wujud gerakan yang didukung guru-guru sebagai bentuk kritisi kepada sistem zonasi. Kami sebagai panitia berharap even-even seperti ini selalu ada di Surabaya," kata Arsya.


Sementara, sang kurator, Rafika D Anggraini menjelaskan, bahwa para peserta didik dan sekolahan yang terimbas sistem zonasi ini menyuarakan dalam bentuk seni rupa. Memaknainya sebagai strategi dan ruang kritik bagi sistem zonasi, untuk itu kata 'Manuver' dipilih. Dalam pengertian denotatif maupun konotatif, manuver mengacu pada pergerakan yang memiliki siasat atau strategi tertentu. Dalam kontek pengkaryaan, seni rupa lah dipilih sebagai cara menyenangkan, kreatif, edukatif dan provoktif.

"Pameran ini digawangi oleh para guru seni budaya dari lima sekolahan di Surabaya. Mereka mencoba memfasilitasi dan memberi wadah bagi anak didiknya menuangkan ide kreatifnya. Dikatakan 'Manuver Zonasi' karena dapat menjadi titik stimulan yang dapat menumbuhkan dan memprovokasi aktifitas kreatif edukatif bagi masyarakat, khususnya para pendidik di sekolahan-sekolahan lain. Dan yang paling penting aktifitas ini melatih para generasi baru melek gadget untuk lebih peka terhadap realita kondisi sosial yang ada di sekitarnya," pungkas Rafika. (Snd)

0 komentar:

Posting Komentar