Ads

Senin, 21 Oktober 2019

Oktober 21, 2019
KORANPAGI.NET - Berangkat dari seorang relawan guru Dwikora, dibekali disiplin militer yang diberikan oleh Rendam VIII/Brawijaya Malang Jawa Timur tahun 1964, Lamidi (81), tetap memiliki jiwa patriotik. Dirinya merilis buku tentang kisah perjuangan hidup selama melaksanakan tugasnya sampai tahun sekarang yang dituangkan pada karya tulisnya yang sudah terbit 25 cerita yang terangkum pada satu buku, Senin (21/10/2019).


Pembela veteran kemerdekaan, Lamidi mengingatkan pada genersi muda sekarang, bahwa remaja rela berkorban dalam membela kesetiaan pada tanah air,"I message I'm very happy when the new generation will be better next. No sacrifice is wasted. What will happend will happened, biar yang telah terjadi, we think more prospected next," katanya dengan menggunakan bahasa inggris.

"Sebagai pengabdian pada tanah air, saya terinspirasi untuk menulis riwayat yang terurai dalam buku tersebut. Ulasan ini sebagai bukti pada generasi muda untuk membangun hari esok lebih baik dari hari sekarang sekaligus pembuktian sejarah. Semoga pembaca bisa menerima isi cerita seperti yang saya alami," tutur Lamidi. 

Lamidi yang lahir di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menulis sebuah buku dengan tema 'Soyo Wani Tanpa Kanti' yang artinya berani hadapi, apapun dalam mengemban amanah. Di dalam buku itu tertulis riwayat hidup pelaku sejarah selama menjalankan tugasnya seperti, pembela Dwikora, Dumadine PLB Tulungagung, terkenang Sei Pak Ning, Romantika perjalanan Dumai sampai Jakarta, Loh Resepeng Uripku,  Lukisan Hitam Putih Gajah Mada,  Senandung Singkat Sukarela, Setahun sebagai Petani Lele di Purwokerto, Situasi Jelang 1 Mei 1965 di Perbatasan, Menelusuri Jalur Priuk Siak, bangkit Veteran Pembela Blitar dan masih banyak rangkaian cerita perjalanan jaman dulu.  Jika membaca buku karya-karya Lamidi, mungkin kita akan lebih tau, lebih mengenang sejarah itu dan memetik hikmahnya. 

"Fredeem To Be Free" (Bebas dalam kebebasan). Negeri cukup lama hidup dalam ketertindasan, Laskar Dwikora yang tersisa, kini "A Soldier Who Never Dies" siap bela negeri ini "Until the last Blood" sampai titik darah terakhir sebagai pembuktian, jika historikal ini dipandang sangat berarti. Buku 'Soyo Wani Tanpa Kanthi' hasil karya Lamidi ini sementara masih terbit lima buah, dan rencananya akan menambah 50 lagi bagi pemesan.  (Gusty Indh)

0 komentar:

Posting Komentar