Ads

Senin, 30 September 2019

September 30, 2019


KORANPAGI.NET - Gelar 'Hancok' yang ke tiga dengan tema 'Gugur Gunung' di Warung Mbah Cokro, Jalan Raya Prapen 22, Surabaya, kumpulan anak muda pegiat seni sukses menyambung dan mempererat kebersamaan antar seniman. Sang 'Legend' Anto Baret hadir memeriahkan sebagai tamu khusus di acara tersebut, Minggu (29/9/2019).

Hancok adalah singkatan dari Hari Seni Cokro yang diadakan oleh para pegiat seni, dimana mereka biasa berkumpul untuk sekedar minum kopi, diskusi dan mengisi waktu luang di Warung Mbah Cokro.


Dijelaskan Faisal Fadlia (panitia) kepada Koran Pagi, kegiatan seni dan budaya ini merupakan acara tahunan yang melibatkan seniman dari berbagai kota di Indonesia. Mulai seni musik, seni rupa, hingga sastra. Untuk tahun ini, panitia mengambil tema 'Gugur Gunung', yang merupakan ungkapan keyakinan akan kekuatan gotong royong sebagai metode berkegiatan.

"Acara ini salah satu bentuk inisiatif komunitas yang ada di Warung Mbah Cokro, dan ini merupakan acara Hancok yang ke tiga kali," jelas Faisal.


Sebagaimana tahun sebelumnya, kali ini Hancok dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut, dengan mendatangkan seniman musik, sastra, tari, monolog, seni tradisional ludruk dan teatrikal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, hingga Jakarta,"Secara khusus kami mengundang Anto Baret, budayawan sahabat karib Almarhum W.S Rendra," sambungnya.

Ada yang berbeda dari Hancok sebelumnya, di tahun ini, juga dibuka Pasar Malam yang diisi beragam pelapak yang berjualan barang-barang hasil kreatifitas mereka sendiri, serta pameran fotografi yang bekerjasama dengan Komunitas Matanesia.


Tidak hanya itu, panitia juga membubuhkan kegiatan bakti sosial di kampung keputih timur gang baru, pameran bertajuk 'Ampun Seniman' yang ditunggalkan oleh M Zurqoni, pemutaran film indie dari komunitas film festival proyeksi, pentas tunggal yang dilakukan oleh Ndimashoe, Seket Astakula, lomba menggambar anak-anak dan berbagai workshop diantaranya batik  lukis, tiedye, dan photografi.

Dalam perjalanannya ditahun ke tiga ini Hancok Masih berjalan secara independen, dimana dalam kegiatannya tidak ada nama sponsor yang berdiri dan mendorong aspek finansial di belakangnya. Semua kebutuhan pelaksanaan, diperoleh dari berbagai upaya yang didasari oleh prinsip kemandirian yang dilakukan secara bergotong royong sejak pertama kali digelar Hari Seni Cokro pada Desember 2017.

"Seluruh kebutuhan pelaksanaan kami peroleh melalui berbagai upaya, diantaranya hasil penjualan merchandise, Pentas Kecil (ngamen) di Warung Mbah Cokro dan lelang karya, termasuk urunan  baik secara materiil atau material dari para dermawan yang juga ingin mensukseskan acara ini," bebernya.



Menilik kata 'Hancok', memanglah bukan satu kata yang asing lagi bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya. Diksi ini dapat menjadi perwakilan atas sapaan akrab, hingga semangat dalam melakukan suatu hal, seperti perubahan dan perlawanan. Hari Seni Cokro diharapkan dapat menjadi ikon kesenian yang konsisten dalam mewujudkan semangat gotong royong dan berdikari dalam mengisi ruang-ruang kebudayaan.

"Kami berharap pagelaran Hancok ini, bahkan Hancok-Hancok sebelumnya mampu menjadikan barometer seni dan budaya bukan hanya di Surabaya, tapi seluruh Nusantara," pungkas Faisal ditengah penutupan Hancok #3. (Snd)

0 komentar:

Posting Komentar