Ads

Minggu, 05 Agustus 2018

Agustus 05, 2018
KORANPAGI.NET - Maraknya perlakuan kurang baik dan berujung pembantaian sadis terhadap beberapa satwa di Indonesia, sekelompok pemuda pecinta hewan yang berasal dari Surabaya tergerak hatinya untuk membentuk suatu komunitas dalam perlindungan dan kelestarian satwa-satwa baik secara teknis maupun secara hukum.


Dari rasa keprihatinan itu, komunitas yang diberi nama Indonesia Cinta Satwa (ICS) ini berinisiatif bersama dan sepakat untuk membentuk suatu perkumpulan berbadan hukum  untuk memperjuangkan kesejahteraan hewan dengan menerapkan prinsip kebebasan hewan yang meliputi bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit, bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan dan penyalahgunaan, bebas dari rasa takut dan tertekan serta bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

Dalam penggolongannya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, maka ada beberapa kategori yang dimaksud yakni hewan, hewan peliharaan, ternak, satwa liar dan sebagainya.

Jadi inti dari berdirinya ICS adalah memperjuangkan kesejahteraan hewan serta melindunginya secara legalitas.

"Harapan kami (ICS) adalah suatu saat Indonesia akan memiliki hukum perlindungan satwa secara kongkret dan dapat terlaksana baik. Sehingga membuka paradigma masyarakat Indonesia untuk sadar dan bahu membahu menentang tindakan penyiksaan dan penelantaran satwa. Satwa juga ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kami berharap masyarakat Indonesia juga peduli bahwa kesejahteraan dan keselamatan satwa merupakan tanggung jawab kita semua sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan," papar Donnie Gumilang, SH, yang juga berprofesi sebagai praktisi dan konsultan hukum di LBH Seroja Surabaya, Sabtu (4/8/2018).

Bermarkas di Jalan Karangmenjangan 3/23-C, Surabaya, ICS bertekad akan mewujudkan misi bersama pemerintah dan instansi terkait dalam mendorong terwujudnya perlindungan hukum dan kelestarian satwa, juga aktif dalam mendukung upaya perlindungan dan kelestarian satwa serta Memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya perlindungan hukum dan kelestarian satwa.

"Semoga ICS ini bisa memberi paradigma baru bagi generasi muda di Indonesia bahwa kepedulian dan memartabatkan satwa adalah hal yang penting dalam membangun kehidupan yang damai dan sentosa. Kita juga akan mensosialisasikan ICS ke daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia," sambung H Samday, salah satu tokoh penting yang mendorong terbentuknya ICS.

ICS juga mengundang aktivis-aktivis dan relawan pecinta satwa untuk bergabung dalam wadah ICS. Syarat utama adalah harus cinta dan peduli pada satwa, walaupun mereka tidak punya peliharaan satwa. Mereka bisa datang langsung ke kantor Pusat ICS.

Menilik legalitasnya, ICS berdiri pada 28 Februari 2018, selanjutnya mendapat pengesahan Kemenkumham pada 28 Maret 2018. Dalam struktur kepengurusan ICS terdiri dari Donnie Gumilang, SH, (Ketua), Anna Cahyo (Sekretaris), Annie Widjaja (Bendahara), Arief Rachmad Hidayat, SH, (Pengawas), Akhmad Zamroni, SH, (Penasehat Hukum), Angel Setiawan dan Bryan Palpote (Humas).

Sejarah berdirinya ICS sendiri terinspirasi dari kasus penganiayaan anjing yang diduga dilakukan oleh seorang mahasiswa universitas swasta di Surabaya pada Bulan Desember 2017.

Dimana pada saat pelaporan di kepolisian terkendala legalitas perkumpulan pecinta hewan, yang akhirnya diharuskan menggunakan KTP perorangan untuk pelaporan tersebut. Ironisnya, hingga kini belum ada tindaklanjut yang jelas oleh petugas terhadap kasus tersebut. (Hd/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar