Ads

Selasa, 28 Agustus 2018

Agustus 28, 2018
KORANPAGI.NET - Sesuai surat edaran dari Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), pelaksanaan instruksi Dirjen Bima Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang tuntutan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar dan mushola melalui Kepala Bidang Agama Islam di seluruh Indonesia, Kepala seksi Agama Islam seluruh Indonesia dan Kepala KUA Kecamatan seluruh Indonesia, supaya volume pengeras suara tidak terlalu keras.



Ditemui saat jam dinas pada hari Selasa (28/8/2018), Kepala Kementrian Agama Kabupaten Tulungagung Drs. H  Ngudiono M Ag, MM  memberikan keterangan jika surat edaran baru saja di terima Kantor Kemenag.

"Saya sudah membaca surat edaran dari Kementrian Agama yang berkaitan dengan volume pengeras suara di Masjid, Musholla atau langgar, bahwasannya sudah ada ketentuan, kami akan menindak lanjuti nantinya melalui sosialisasi dalam bentuk brefing, rapat dan penataran. Tentunya melibatkan berbagai pihak seperti  KUA di teruskan ke takmir untuk di berikan tuntunan, bimbingan dan petunjuk pada pengurus masjid, musholla di daerah masing-masing tentang penggunaan pengeras suara," jelasnya.



Kepala Kementrian Agama Kabupaten Tulungagung, Drs. H.  Ngudiono M Ag, MM

Pengeras suara di masjid, langgar atau musholla bertujuan untuk memperluas jangkauan penyampaian dari apa_apa yang di siarkan di masjid seperti adzan, iqomah, doa, peaktek sholat, takbir, bacaan ayat alqur'an dan pengajian.



Keuntungan menggunakan pengeras suara di masjid, langgar dan musholla adalah tercapainya sasaran dakwah atau penyampaian agama kepada masyarakat yang lebih luas, baik di dalam masjid atau pun luar masjid. Sedangkan kerugian meggunakan pengeras suara di masjid, langgar di antaranya mengganggu pada orang-orang yang sedang istirahat atau sedang beribadah di dalam rumah masing-masing, contohnya mereka melaksanakan tahajud, menyelenggarakan upacara agama. 



Adanya aturan baru tuntutan  penggunaan pengeras suara di masjid bakal menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. PP  warga Padangan Kecamatan Ngantru jika rumahnya  tidak jauh dari musholla merasa kurang nyaman ketika pengeras suara yang di dengarnya melebihi maksimal," mo gimana lagi resiko kami dekat musholla, saya seneng aja tapi kadang penggunaaya tidak optimal, apa lagi kalau anak-anak yang menggunakan jelas di dengar gak nyaman, saya juga gak berani negur, adanya aturan baru saya mengikuti aja jika itu yang terbaik", jelasnya.



Kusus kota besar, di mana anggota masyarakat tidak lagi memiliki jam yang sama untuk bekerja, pergi dan pulang kerja sangat terasa sekali. Seperti yang sudah diuraikan pada umumnya ketentuan yang ketat ini berlaku untuk seluruh masyarakat, yakni di mana penduduk dalam jam bekerja dan keperluan bekerja bisa tenang di rumah. (Gusty indh).

0 komentar:

Posting Komentar