Ads

Rabu, 11 Juli 2018

Juli 11, 2018
KORANPAGI.NET - Tumpak Celeng atau Tumpak Kurma merupakan salah satu destinasi wisata religi yang dimiliki Kabupaten Tulungagung. Namun sayang, keindahan alam ini kurang dapat perhatian dari pemerintah setempat mengingat akses jalannya yang minim penerangan dan banyak medan berbahaya apa bila dilalui kendaraan, Selasa (10/7/2018).


Terletak di lereng gunung dengan ketinggian 1,5 kilometer dari Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, lokasi tersebut ditumbuhi 9 pohon kurma yang subur.

Saat Koran Pagi berkunjung dikawasan Desa Pelem yang dihuni kurang lebih 10 kepala keluarga, tampak sebuah Mushola yang dikeramatkan warga dan dijadikan salah satu tempat wisata religi.

Mushola Sadjidin namanya, rumah ibadah ini konon didirikan oleh sesepuh Tumpak Celeng yang biasa disebut dengan panggilan Mbah Saji.

Menurut warga setempat, lokasi wisata tersebut sering dikunjungi oleh rombongan anak sekolah atau pelajar sebagai tujuan wisata "Tadabbur Alam" atau pengenalan sejarah wisata alam.

Selain sebagai jujugan para pelajar, tidak jarang muda mudi, keluarga, orang tua bahkan anak-anak difabel (berkebutuhan khusus) kerab berkunjung di lokasi wisata religi "Tumpak Celeng".

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Madinul Umum, Gus Ma'dum, yang juga dikenal sebagai 'Danyang Segoro Gumelar' mengatakan, Tumpak Celeng memiliki cerita sejarah yang mengandung misteri, sehingga lokasi tersebut banyak didatangi beberapa orang yang bertujuan untuk ritual.

"Di dalam area wisata terdapat sumber bening yang selalu tidak pernah kering. Kemudian ada juga Kali Remuk yang beroperasi oleh banjir dan jaman. Sendang obat yang dipercaya sebagai tempat mandi Raden Panji, selanjutnya ada Keyan Pereleman yang jadi misteri sering di gunakan para supranatural  memburu kejujuran alam," ungkap Gus Ma'dum.

Ironisnya, keindahan destinasi alam ini kurang dapat perhatian oleh pihak terkait, khususnya di bidang pariwisata. Dimana tidak, akses jalan menuju lokasi wisata Tumpak Celeng ini hanya bisa ditempuh dengan mengendarai motor serta terbilang berbahaya.

Selain minimnya penerangan jalan yang membuat wisatawan kesulitan apabila melintas saat malam hari, jalan menuju wisata religi Tumpak Celeng juga banyak tanjakan, meski tidak terlalu curam, namun dapat membahayakan pengendara motor yang melintasinya, terlebih lagi ketika musim penghujan tiba.

Saat dikonfirmasi, Kabid Pengembangan Pariwisata, Heru Junianto mengatakan, dalam pengelolaan akses atau fasilitas umum menuju lokasi wisata, sudah ada beberapa aparatur yang berwenang.

"Soal pembangunan Penerangan Jalan Umum (PJU) bisa ke PU atau pihak desa. Masalah wisata religi bisa di bangun oleh desa atau perorangan. Sedangkan jalan menuju wisata yang kurang nyaman tentunya tanggung jawab desa melalui Anggaran Dana Desa (ADD)," ujar Heru kepada awak media. (Gusty)

0 komentar:

Posting Komentar