Ads

Selasa, 01 Mei 2018

Mei 01, 2018
KORANPAGI.NET - Jelang Pilgub 2018, Surabaya Survey Center (SSC) telah melakukan berbagai riset trend, kecenderungan dan prediksi terhadap publik. Alhasil, memunculkan empat point yang menarik pada survey bulan April tahun ini. Hasil riset tersebut diantaranya yakni :


Pengetahuan meningkat, Partisipasi Pemilih dalam Pilgub Bakal Naik

Hasil riset Surabaya Survey Center (SSC) periode April 2018  menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Jawa Timur terhadap waktu penyelenggaraan Pilkada Jatim 2018 cukup mengembirakan.

Sebanyak 21,4 persen responden mampu menjawab dengan tepat tanggal, bulan, dan tahun penyelenggaraan Pilkada. Adapun responden yang mampu menyebut bulan dan tahun saja sebesar 25,3 persen. Sementara responden yang mampu menyebut tahun saja sebanyak 33,5 dan hanya 19,8  persen yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Menurut Edy Marzuki, peneliti SSC angka pengetahuan ini meningkat jika dibandingkan dengan data Desember 2017. Hal ini menurut Edi Marzuki akan berimplikasi kepada tingkat partisipasi pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya yakni sebesar 90,2 persen.

“Dalam situasi persaingan yang sengit dan ketat angka partisipasi diatas 80 persen tentu amat berarti dan akan menambah legitimasi terhadap hasil pilkada, dan peningkatan kesadaran politik warga” jelas Edi Marzuki.

Survei dengan metode multistage random sampling ini dilakukan pada tgl 11-19 April 2018 di 38 kabupaten/kota di Jatim. survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan margin of error 2.81 persen, level of confidence 95 persen dan jumlah sampel 1220 responden. Sebagai bentuk kendali mutu, survei ini di lengkapi dengan metode spot check hingga 20 persen dari total responden.

Aneka Problem yang dihadapi Rakyat dan isu dalam Pilkada : Kesulitan Hidup dan Pekerjaan Menjadi Problem Utama

Hasil Survei Surabaya Survey Center (SSC) periode April 2018 memberi petunjuk atas berbagai masalah yang dihadapi rakyat di Jawa Timur dan berpengaruh terhadap kontes Pilkada kali ini. Masalah tersebut antara lain adalah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sebanyak 24,1 persen, kesulitas mencari pekerjaan tetap sebanyak 23,6 persen, kesulitan biaya pengobatan sebanyak 17 persen, kesulitan biaya anak sekolah sebanyak 9 persen.


Selanjutnya kesulitan modal usaha sebanyak 6,6 persen, kesulitan menjual hasil pertanian sebanyak 5,5 persendan lain lain sebanyak 2,6 persen serta 11,6 persenmenjawab tidak tahu dan tidak menjawab.

“Bagi paslon yang memiliki program dan penanganan yang jelas dan solutif terkait masalah harga, lapangan kerja, kesehatan, pendidikan dan ekonomi akan mendapat insentif suara yang signifikan dalam pilkada kali ini.”jelas Imam Sofyan, peneliti SSC.

Survei dengan metode multistage random sampling ini dilakukan pada tgl 11-19 April 2018 di 38 kabupaten/kota di Jatim. survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan margin of error 2.81 persen, level of confidence 95 persen dan jumlah sampel 1220 responden. Sebagai bentuk kendali mutu, survei ini di lengkapi dengan metode spot check hingga 20 persen dari total responden.


Pertimbangan dan Pemilih Rasional Naik Pesat 

Hasil Survei Surabaya Survey Center (SSC) periode April 2018 menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi pilihan masyarakat Jatim dalam Pilkada tidak lagi bisa mengandalkan aspek sosiologis dan psikologis tetapi juga rasional. Masyarakat yang memilih atas dasar visi misi dan program yang ditawarkan sebanyak 24 persen.

Disusul kemudian kinerja dan karya nyata sebanyak 21,1 persen. Kemudian latar belakang agama sebanyak 15,2 persen, kepribadian calon sebanyak 13,9 persen. Latar belakang partai pengusung sebanyak 9,3 persen intelektual calon sebanyak 2,3 persen latar belakang asal daerah sebanyak 1,1 persen dan yang menjawab tidak tahu/ tidak menjawab sebanyak 13,1 persen.

“Pilkada Jatim termasuk Pilkada yang rumit dan sangat kompetitif, kandidat tidak saja dituntut untuk memiliki modal sosiologis dan psikologis, tetapi juga kompetensi dan kapabitas. Pemilih yang memilih atas dasar rasionalitas semakin meningkat dari waktu ke waktu” ujar Surokim Abdussalam, peneliti SSC.

Potret ini juga menjadikan PR bagi para kandidat agar bisa menampilkan performance yang lebih baik agar bisa mengaet swing voter dan undecided voters yang jumlahnya juga cukup signifikan. 
Survei dengan metode multistage random sampling ini dilakukan pada tgl 11-19 April 2018 di 38 kabupaten/kota di Jatim. survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan margin of error 2.81 persen, level of confidence 95 persen dan jumlah sampel 1220 responden. Sebagai bentuk kendali mutu, survei ini di lengkapi dengan metode spot check hingga 20 persen dari total responden.


Persepsi Publik Jatim Terhadap Kompetensi Paslon

Hasil Survei Surabaya Survey Center (SSC) periode April 2018 juga membandingkan kompetensi antarpaslon dan kompetensi apa yang dibutuhkan untuk memimpin Jawa Timur. Kedua kandidat memiliki keunggulan masing masing dan dapat tergambar letak keunggulan diantara paslon.

Dalam bidang kemiskinan Khofifah (KIP)-Emil dianggap lebih unggul oleh  41,1 persen publik Jatim, dibanding  Syaifullah Yusuf (GI)-Puti Guntur SP yang mendapat 22,6 persen dukungan. Sementara yang menjawab tidak tahu dan tidak menjawab sebanyak 36,3 persen.

Dalam bidang infrastruktur GI-Puti lebih unggul dengan 32,3 persen dukungan, sementara KIP-Emil sebanyak 24,2 persen dan yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebanyak 41,5 persen.

Dalam bidang pendidikan KIP-Emil lebih unggul sebanyak 37,1 persen dan GI-Puti sebanyak 21,4 persen sementara yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebanyak 41,5 persen.

Dalam bidang pengendalian harga barang KIP kembali unggul sebanyak 33,6 persen sementara GI-Puti sebanyak 22,5 persen. Adapun yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebanyak 43,9 persen.

Dalam bidang kompetensi paslon terhadap penangganan madin dan pesantren GI-Puti lebih unggul sebanyak 36,9 persen, sementara KI-Emil sebanyak 25,8 persen sementara yang tidak menajwab/tidak tahu sebanyak 37,3 persen.

Dalam bidang penangganan birokrasi dan kkn GI-puti unggul sebanyak 25,4 persen dan KIP Emil sebanyak 23 persen sementara yang tidak menjawab/tidak tahu sebanyak 51,6 persen.

“KIP-GI unggul dalam kompetensi penangganan bidang kemiskinan,pendidikan, dan pengendalian harga. Sementara GI-Puti memiliki keunngulan dalam kompetensi bidang infrastruktur, penangganan pesantren dan madin, dan penangganan birokrasi. Hal ini menunjukkan masing masing calon bersaing ketat dan memiliki keunggulan masing masing. Kedua kandidat ini memiliki kompetensi yang saling berbagi”ujar Muhtar W Oetomo, peneliti SSC.

Survei dengan metode multistage random sampling ini dilakukan pada tgl 11-19 April 2018 di 38 kabupaten/kota di Jatim. survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan margin of error 2.81 persen, level of confidence 95 persen dan jumlah sampel 1220 responden. Sebagai bentuk kendali mutu, survei ini di lengkapi dengan metode spot check hingga 20 persen dari total responden.

Sumber : Surabaya Survey Center (SSC)

0 komentar:

Posting Komentar