Ads

Rabu, 23 Mei 2018

Mei 23, 2018
KORANPAGI.NET - Polisi kesulitan tangani perkara panganiayaan binatang (anjing) yang sempat viral di media sosial (medsos) beberapa bulan kemarin. Hal ini membuat para komunitas satwa, khususnya di Surabaya merasa kecewa dengan kinerja Polrestabas Surabaya, Rabu (23/5/2018).


Masih ingat kasus penganiayaan anjing yang viral dan menuai kecaman dari berbagai pihak komunitas pecinta binatang, penanganannya ironis, hingga berita ini dimuat, kasus tersebut masih terkatung-katung di meja penyidik Polrestabes Surabaya.

Seperti di ketahui bahwa pelaku penganiaya anjing itu bernama Herald Renhart J Moriolkossu, seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di kota ini. Kasus tersebut awalnya dilaporkan ke Polda Jatim oleh Donnie Gumilang, yang kemudian dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya untuk diproses lebih lanjut.

Pihak Humas Polrestabes Surabaya ketika dikonfirmasi perihal perkara Herald mengatakan belum mendapat informasi perkembangannya,"Mohon maaf saya belum terima konfirmasi info mengenai kasus penganiayaan anjing," jelas AKP Chyntia.

Terpisah, kuasa hukum pelapor, Advokat Arief Rachmat Hidayat, SH, menyayangkan pernyataan pihak penyidik yang mengaku 'buntu' untuk menelusuri keberadaan Herald (terlapor).

"Ya seharusnya tidak ada jalan buntu, kalau pihak kepolisian menemui jalan buntu dalam menelusuri keberadaan terlapor apa lagi kami. Bila info itu benar bahwa si Herald kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, ya di cek di sana, masih banyak cara-cara dan strategi polisi dalam memanggil terlapor. Pihak kepolisian punya wewenang lebih di banding kita gunakan itu. Lebih susah nangkap teroris dari pada menangkap Herald. Kendati demikian, kami tetap menghormati proses hukum yang dilakukan kepolisian, saya berharap pihak kepolisian segera bisa memanggil Herald karena kasus ini sudah lama, temen-teman pecinta satwa menunggu hasil prosesnya," papar advokat yang akrab disapa dengan sebutan Samday.

Sementara, rasa kecewa terlontar dari beberapa anggota komunitas pecinta anjing di Surabaya. Salah satunya Dimas (bukan nama asli) yang menganggap kinerja polisi kurang serius dalam menindak terlapor.

"Kasus ini kan sudah dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya, harapannya dimana kepolisian dapat mendatangi kampusnya dan meminta kerjasama mengenai identitas pelaku, agar pelaku dapat memenuhi panggilan dari kepolisian untuk diperiksa. Kami disini terus berdoa, semoga hukum dapat ditegakkan seadil-adilnya dan pelaku mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya," tukas Dimas.

Senada, sebut saja Bunga, juga mengutarakan kekecewaannya terkait lambannya pelayanan pihak berwajib.

"Kami masih menunggu kabar kelanjutan dari pihak yg berwajib. Dan kami agak kecewa dengan kelambatan penanganan. Karena berbuntut kekerasan terhadap hewan domestik khususnya semakin banyak Mereka para pelaku tindak kekerasan menganggap hukum di Indonesia sangat lemah. Dan paling cuma di sanksi sosial dan di bully saja," ujarnya.


Berdasar sumber pangkalan data perguruan tinggi (forlap.ristekdikti.go.id) diketahui bahwa terlapor merupakan seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya dengan jurusan ilmu hukum dan masih aktif. (Ris/Snd)

0 komentar:

Posting Komentar