Ads

Sabtu, 14 April 2018

April 14, 2018
KORANPAGI.NET - Kasus 'akrobatik' hukum yang dilakukan oleh Asui dan kawan-kawan (CS) semakin memanas. Dalam panggilan Direskrimum Polda Jatim kepada semua pihak terkait, tampak terlapor tidak datang untuk penuhi panggilan pemeriksaan secara konfrontasi.

Gedung Direskrimum Polda Jatim

Tertantang, Satuan tugas (Satgas) Anti Mafia Tanah Polda Jatim akhirnya mengambil langkah tegas dengan melakukan gerak cepat dalam upayanya mengungkap kebenaran pada kasus yang dilaporkan Allan Tjipta Rahardja.

Sesuai dengan surat panggilan Nomor S.Pgl/1632/IV/Res.1.11/2018/
Direskrimum, tertanggal 11 April 2018, petugas berupaya melakukan pemeriksaan konfrontasi kepada semua pihak (terlapor dan pelapor) pada Jumat (13/4/2018).

Namun disayangkan, upaya penggalian kebenaran materiil dalam rangka penegakan hukum yang benar dan adil tersebut tidak digubris oleh Asui CS.

"Mereka tidak hadir tanpa keterangan jelas, yang terlihat hadir hanya pelapor dengan didampingi pengacaranya," kata seorang petugas kepada Koran Pagi.

Ketidak hadiran terlapor dalam panggilan tersebut disikapi tegas oleh kuasa hukum pelapor.

"Ketidak datangan Asui dan komplotannya (terlapor) telah cukup membuktikan bahwa mereka tidak bernyali dikonfrotir dengan Allan Tjipta Rahardja (pelapor). Kalau mereka merasa benar dan jujur, maka seharusnya hadir dan menghormati panggilan Polda Jatim selaku aparat penegak hukum. Upaya pengungkapan kebenaran materiil ini memang harus digali, karena tidak bisa hanya berpegang pada kebenaran formal akta jual beli (AJB) semata," kata Advokat Hadi Pranoto, SH, MH, yang juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Keluarga Besar Marhaenis Jawa Timur dan juga selaku Dewan Pakar DPC Peradi Surabaya Pimpinan Juniver Girsang, Jumat (13/4/2018).

Seperti diberitakan sebelumnya (Akrobatik Hukum Asui, Tantangan Satgas Anti Mafia Tanah Polda Jatim), fenomena akrobatik hukum yang dilakukan Asui CS dalam kasus tersebut tergambar mulai dari Perjanjian Pengikatan Jual Beli Nomor 20 tanggal 18 Februari 2015 di depan Notaris Hj Imnatunnuroh, SH. Mkn, seakan dibuat terputus dan terpisah dari Asui. (Ris/Snd)