Ads

Selasa, 17 April 2018

April 17, 2018
KORANPAGI.NET - Belum kelar dengan obat herbal 'palsu' merk CUR-Z yang menyebar di berbagai pelosok daerah, Lembaga Konsultan Kanker Indonesia (LKKI) terus melenggang menjaring pegawai untuk penyuluhan serta meraup keuntungan dari penjualan obat 'palsunya', Senin (17/4/2018).


Seperti diberitakan sebelumnya, LKKI yang beralamat di Cibogo, Bandung, Jawa Barat, diduga telah memalsukan obat herbal untuk kanker merk CUR-Z. Hal itu diketahui dari CV Hanif Herbal, Kulon Progo, Yogyakarta, selaku yang memproduksi mengaku tidak pernah mengirim barangnya kepada LKKI.

Di samping itu nomor ijin halal (MUI) yang tampak pada kemasan obat CUR-Z (palsu) yang diedarkan oleh LKKI juga berbeda dengan aslinya.

"Awalnya kami ditawari oleh pihak managemen dari Lembaga Konsultan Kanker Indonesia (LKKI) di Bandung, bernama Farida, untuk diberi penyuluhan tentang kanker. Setelah melakukan penyuluhan, mereka langsung menawarkan obat merk CUR-Z ke para peserta, banyak juga yang beli. Obat itu dijual seharga Rp 250 ribu per botol," jelas Endang, salah satu pengurus Gereja Kristen Jawa, Depok kepada Koran Pagi.

Senada, Yayasan Pendidikan Nasional (Yaspen) Tugu Ibu I Depok juga mengungkapkan pernah didatangi LKKI untuk dilakukan penyuluhan, dan lagi, ujung-ujungnya menawarkan obat merk CUR-Z dengan ada logo LKKI pada kemasannya serta Nomor MUI yang tidak sama dengan aslinya.

"Kami sudah layangkan surat permintaan ganti rugi kepada pihak LKKI, dan apabila tidak direspon, kami tidak segan untuk menempuh jalur hukum," tegas Kepala Sekolah SD Yaspen Tugu Ibu.

Nomor MUI Berbeda

Kendati demikian, lembaga tersebut masih gencar menjaring pagawai untuk menjualkan obat merk CUR-Z 'palsu' dengan cara melalui penyuluhan-penyuluhan tentang penyakit kanker.

"Awalnya saya cari kerja melalui media sosial, kemudian saya dapat inbox (pesan) bahwa ada lowongan dan saya langsung kirim lamaran kerja. Akhirnya saya dipanggil dan langsung ditraining oleh LKKI. Sebelumnya saya tidak tahu kalau obat itu palsu, dalam menjalani training perorang disuruh menjual 100 botol obat merk CUR-Z (obat herbal palsu dari LKKI) dalam kegiatan penyuluhan. Ibu Dian selaku koordinator melarang untuk keluar selama masa training, dan apa bila keluar dapat terkena denda Rp 5 juta," aku salah seorang mantan pegawai LKKI yang tidak bersedia namanya dipublikasikan.

Mengetahui beredarnya informasi bahwa obat yang diedarkannya 'palsu', akhirnya gadis berhijab ini memilih keluar dari pekerjaan tersebut. Namun, rasa berdosa kini menyelimutinya, karena obat CUR-Z dari LKKI sudah banyak terjual kepada penderita kanker.

"Ada kakaknya teman saya yang juga membeli dua botol dan sudah dikonsumsi satu botol, tapi bukannya berkurang benjolan pada payu darahnya malah sering nyeri-nyeri sekarang. Saya sendiri juga mengkonsumsi, tapi setelah mengetahui berita bahwa itu palsu saya berhenti untuk mengkonsumsi. Jujur saja, saya sekarang merasa berdosa pada konsumen yang sudah membeli dan mengkonsumsinya, karena mayoritas konsumen saya penderita kanker berstadium lanjut. Kita sebagai petugas kesehatan kan sudah disumpah untuk membantu orang yang sakit, tp kok malah kayak gitu, itu yang membuat saya takut dan merasa berdosa," sesalnya.

Sementara, Ketua LKKI, Riksmaya, ketika dikonfirmasi selalu menutup dan tidak bisa memberikan penjelasan terhadap publik. Begitu juga Ridwan, yang mengaku sebagai humas LKKI juga terkesan enggan berkomentar terkait obat CUR-Z 'palsu' yang diedarkan.

Menanggapi hal ini, Balai POM Surabaya segera berkoordinasi dengan pusat untuk menindak lanjuti dan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk memprosesnya."Silahkan kumpulkan bukti-bukti dan sample obat 'palsunya', juga alamat, nanti kami akan menindaklanjuti bersama pihak-pihak terkait, baik instansi maupun kepolisian," papar salah satu petugas BPOM bagian pengaduan. (Hs/Dp/Snd)