Ads

Kamis, 29 Maret 2018

Maret 29, 2018
KORANPAGI.NET - Dugaan kasus tindak pidana penipuan dan atau penggelapan yang melibatkan seorang notaris di Surabaya, beberapa terlapor rawan terjerat pidana. Hingga kini, kasus tersebut masih bergulir di meja penyidik Reskrimum Polda Jatim, Kamis (29/3/2018).


Menurut kuasa hukum pelapor, Hadi Pranoto, SH, MH, kasus ini berawal dari hutang piutang hingga jual beli tanah."Awalnya klien saya punya hutang Rp 2 miliar kepada Asui (terlapor). Kemudian klien saya menjual tanahnya seluas 7545 meter persegi, dan dibeli oleh terlapor dengan kesepakatan hutangnya Rp 2 miliar ditambah Rp 1,5 miliar sebagai down payment atas pembelian tanah itu," katanya.

Sesuai ukuran tanah, harga seluruhnya senilai Rp 11.317.500.000 dan sudah dibayar uang muka sejumlah Rp 3,5 miliar oleh Asui. Ketika proses penandatanganan Akte Jual Beli (AJB) di depan notaris, Asui tidak datang dan dikuasakan kepada Juwita W (keponakan Asui).

Ironisnya, dalam pembuatan AJB, pihak notaris tidak mencantumkan identitas Juwita W dengan jelas. Pelapor hanya mendapat penjelasan dari Asui bahwa yang datang serta menandatangani AJB tersebut adalah "orangnya" (suruhan Asui).

Hingga pada akhirnya, pelapor mendatangi notaris kembali pada Juli 2015 guna menanyakan pelunasan sisa pembayaran atas tanah yang sudah dijanjikan Asui sebesar Rp 7.817.500.000.

"Saat klien saya datang ke kantor notaris untuk menagih sisa pembayaran, orangnya Asui yang bernama Juwita W itu tidak datang. Kemudian Asui menghubungi klien saya dan mewakilkan kepada orang lain lagi yang bernama Handoko Suhartono," lanjut Hadi Pranoto, SH, MH.

Kedatangan Handoko sebagai perwakilan Asui saat itu ternyata belum bisa melunasi sisa pembayaran tersebut, melainkan meminta waktu mundur selama tiga bulan lagi atau selambat-lambatnya Desember 2015.

Bersamaan dengan janji saat itu, pihak notaris membuatkan surat kesepakatan lagi "persiapan akta jual beli" yang ditandatangani pelapor beserta istri dan Handoko selaku perwakilan Asui, dengan dibuat harga jual beli senilai Rp 3,5 miliar untuk menghindari pajak yang besar.

"Pada saat menagih janji kembali ke kantor notaris, klien saya tetap tidak mendapat pelunasan uang seperti yang dijanjikan, melainkan pernyataan bahwa Handoko telah membeli dengan lunas tanah dari klien saya, aneh kan," jelasnya kepad Koran Pagi.

Karenanya, diharapkan pihak berwajib mampu profesional dalam menyikapi serta mengusut dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sesuai dengan Laporan Polisi (LP) Nomor TBL/1282/X/2917 tertanggal 16 Oktober tahun kemarin. (Snd/Snd)