Ads

Kamis, 18 Agustus 2016

Agustus 18, 2016


KORANPAGI - 
Persidangan perkara fitnah dan pencemaran nama baik, yang menjerat advokat David Abraham sebagai pesakitan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (18/8/2016). 

Dalam persidangan, advokat Abraham kian tak berkutik atas keterangan saksi ahli pidana dari Universitas Gajah Mada (UGM) yakni Prifesor Dr Edi Syarif Jari.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Ferdinandus, Edi memberikan keterangan terkait perkataan pencemaran nama baik yang dilakukan secara lisan sebagaimana terdapat dalam Pasal 310 ayat 1 KUHP. Menurutnya, agar dapat dihukum, maka pencemaran nama baik itu harus dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan tertentu, yang bertujuan agar tuduhan itu tersiar atau diketahui orang banyak.

Edi juga menjelaskan, tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa barang bukti berbentuk surat diperlukan dalam membuktikan pencemaran nama baik secara lisan. "Yang terpenting adalah tuduhan tersebut dilakukan di depan orang banyak," katanya.

Ia menambahkan, hal ini berbeda dengan pencemaran nama baik yang dilakukan melalui tulisan, dimana media yang digunakan dalam melakukan pencemaran nama baik tersebut dapat berupa tulisan atau gambar. "Dalam hal pencemaran nama baik dengan tulisan, maka surat atau gambar tersebut dibutuhkan sebagai bukti adanya pencemaran nama baik," tegas Edi.

Menurutnya, unsur-unsur pidana dari pasal 311 ayat 1 KUHP adalah jika ada seseorang yang menista orang lain baik secara lisan maupun tulisan, namun tidak dapat membuktikan tuduhannya tuduhannya tersebut maka unsur pidana sudah masuk. "Seperti tuduhan orang itu mencuri, orang itu korupsi, orang itu menerima suap, maka hal itu bisa dipidanakan jika yang menuduh tidak bisa membuktikannya," pungkas Edi.

Kasus itu bermula saat terdakwa David menanyakan buku Letter C atas obyek tanah yang berlokasi di Jalan Kayun, Surabaya ke Kantor Kelurahan Embong Kaliasin, Jalan Embong Sawo, Surabaya pada November 2013 silam. Atas hal itu, Reni sebagai Sekretaris Kelurahan lantas menelepon Jusran Samba dan terdakwa langsung menuding pihak kelurahan telah disuap oleh Jusran. Merasa difitnah, saksi korban pun melaporkan kasus ini ke Polisi. (Dm)