Ads

Selasa, 16 Agustus 2016

Agustus 16, 2016


KORANPAGI - Terdakwa kasus penipuan pembangunan proyek Mall Situbondo City yang menjerat Helito Tjonggro alias Abraham, kendati kondisinya sudah sehat, namun hakim Ferdinandus selaku ketua majelis hakim tak kunjung menahannya.
Farouq, pelapor sekaligus korban terdakwa Helito, (Foto:Dm)

Dalam sidang yang digelar diruang Garuda dengan menghadirkan saksi ahli. Namun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Djuwariyah memutuskan untuk membacakan keterangan saksi ahli dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik."Kepada pelapor (Farouq), terdakwa Abraham mengaku tengah menangani proyek-proyek besar di Bogor dan Pasuruan. Padahal kenyataannya tidak terbukti, atas hal itu saksi ahli menilai perbuatan terdakwa sudah memenuhi unsur pidana," kata jaksa Djuwariyah membacakan keterangan saksi ahli.

Usai persidangan, Faroq selaku pelapor mengkritisi sikap hakim yang tidak menahan Helito."Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa hakim tidak segera menahan terdakwa. Padahal saat menjalani persidangan kondisi terdakwa sehat dan segar bugar," ujar Farouq usai persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (16/8/2016).

Menurutnya, jika alasan kondisi sakit, maka hakim tak perlu menggelar persidangan."Hal itu yang membuat saya tidak setuju, mengapa terdakwa masih menjadi tahanan kota. Jika alasanya sakit, kan sekarang sudah tidak sakit, tahan donk terdakwa," tegas Farouq.

Seperti diketahui, kasus ini berawal dari niat Farouq yang ingin membangun Mall Bondowoso City pada 2014 lalu. Untuk merealisasikan proyek besarnya itu Farouq bertemu terdakwa yang merupakan Direktur Utama (Dirut) PT Gumuk Mas, sebuah perusahaan kontraktor.

Saat itu, kepada korban terdakwa mengaku sebagai spesialis mengerjakan mega proyek. Tertarik rayuan terdakwa, akhirnya Farouq menyerahkan proyek pembangunan mall Bondowoso City ke terdakwa. Dari situlah, terdakwa mulai beraksi melakukan penipuan.

Awalnya terdakwa meminjam dana untuk modal pengerjaan proyek ke Farouq dengan alasan saat itu kondisi keuangannya sedang ada masalah. Setelah terdakwa menerima uang, proyek yang dijanjikan ternyata tak kunjung terselesaikan. Merasa tertipu, akhirnya korban melaporkan terdakwa ke pihak polisi. Dalam dakwaan, terdakwa dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan. (Dm)