Ads

Senin, 08 Agustus 2016

Agustus 08, 2016
Tim Ekspedisi KSI2 / panpel.ksi2
KORAN PAGI - Susur Sungai Bengawan Solo yang dilakukan tim gabungan sebagai agenda pra Kongres Sungai Indonesia (KSI2) sudah tuntas dilaksanakan. Pada kamis lalu tim sudah finish di Bendung Gerak Sembayat, lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun tim dari Pokja KSI II tidak langsung berhenti di BGS melainkan terus melanjutkan ekspedisi susur sungai hingga menuju muara di wilayah Ujung Pangkah Gresik.

Susur Sungai Bengawan Solo / dok.pan.ksi2
Tim susur sungai menemukan banyak fakta penting sepanjang ekspedisi Bengawan Solo (khusus perlintasan Jawa Timur yang dilalui tim KSI2). Temuan ini terkait kondisi faktual tepi sungai, habitat sungai, limbah buangan dan gambaran sidementasi sungai Bengawan Solo. 

Berbagai kemungkinan buruk seperti indikasi adanya limbah buangan industri yang berbahaya bagi habitat sungai Berantas maupun Bengawan Solo juga harus diungkap.

Bahkan issue komersialisasi dan eksploitasi sumber daya air oleh jawatan tertentu yang selama ini tertutup dari perhatian masyarakat juga harus dibuka luas ke publik agar puluhan juta warga yang tinggal di bantaran Sungai di Indonesia memahami sisi lain dari keberadaan sungai. Hal ini juga berlaku di sektor Bendungan.

Temuan tersebut harus dikaji dengan melibatkan para ahli di forum ilmiah seperti seminar dan lokakarya, baru nanti akan dirumuskan rekomendasi yang menjadi bahan penting agenda pleno KSI 2 september mendatang.

“Dalam lokakarya Pokja KSI II akan  dengan mengundang para pakar dan akademisi untuk merumuskan rekomendasi bahan KSI II Jatim pada September mendatang dan diharapkan pula menjadi rekomendasi bagi pemerintah baik pusat, provinsi dan kabupaten yang dilintasi Benagwan Solo,” kata Penanggungjawab Tim Susur Sungai Bengawan Solo, Imam Rochani, sebagaimana yang sudah disampaikannya pada Kominfo Pemprov Jatim.

Sebagaimana yang sudah sering diulas di Koran Pagi, misi utama dari agenda nasional KSI2 yang diadakan di Malang Jawa Timur nanti adalah rekonstruksi pemahaman publik (terutama pengambil kebijakan) terhadap fungsi sungai, dimana selama ini sungai dipahami secara sempit dan jarang disentuh oleh kebijakan prioritas dari pemerintah.

Pasca KSI I yang dilaksanakan di Banjarnegara 2015 silam, tema sungai makin mengemuka lalu menjadi perhatian penting banyak pihak. Instansi terkait seperti PJT, Perhutani, NGO dan pegiat lingkungan aktif melakukan koordinasi menindaklanjuti agenda besar penyelamatan sungai ini. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bertemu langsung dengan Gubernur Jatim Dr. Soekarwo pada mei lalu untuk membahas persiapan KSI 2 melalui seremonial serah kepanitiaan ksi1 ke ksi2 Jatim. (mpagi/la).