Ads

Selasa, 19 Juli 2016

Juli 19, 2016
Ilustrasi : mylentera.com
Koran Pagi - Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur pada Maret 2016 dibandingkan September 2015 turun sebesar 0,23 poin persen, yaitu dari 12,28 persen pada September 2015 menjadi 12,05 persen pada Maret 2016. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono di kantornya Jl Kendangsari Industri Surabaya, Senin (18/7) mengatakan, turunnya jumlah penduduk miskin karena banyaknya pembangunan jalan tol sehingga banyak membuka lapangan pekerjaan dan berdampak pada pengurangan pengangguran serta naiknya upah buruh.

Faktor yang terkait dengan penurunan persentase penduduk miskin selama periode September 2015-Maret 2016 antara lain karena selama periode September 2015-Maret 2016 terjadi inflasi sebesar 1,31 persen. Harga beras mengalami penurunan sebesar 0,10 persen, yaitu dari Rp 9.702 per/kg pada September 2015 menjadi Rp 9.690 per/kg pada Maret 2016.  

Selama periode September 2015-Maret 2016, selain beras harga eceran beberapa komoditas bahan pokok mengalami penurunan seperti telur ayam ras dan tempe, yaitu masing-masing turun sebesar 3,54 persen dan 0,17 persen. Sementara berdasarkan daerah kota dan desa, selama satu semester mulai September 2015 sd Maret 2016, penduduk miskin di perkotaan turun 0,47 poin persen, sedangkan di perdesaan mengalami kenaikan 0,17 poin persen.

Pada periode September 2015 - Maret 2016, garis kemiskinan meningkat sebesar 1,67 persen atau Rp 5.297 per kapita per bulan, yaitu dari Rp 316.464 per kapita per bulan pada September 2015 menjadi Rp 321.761 per kapita per bulan pada Maret 2016. Kenaikan garis kemiskinan di perkotaan sedikit lebih tinggi daripada di perdesaan. Garis kemiskinan perkotaan meningkat sebesar 1,70 persen, sedangkan garis kemiskinan perdesaan meningkat 1,68 persen.

Kenaikan garis kemiskinan tersebut, meliputi garis kemiskinan makanan (1,68 persen untuk perkotaan dan 1,22 persen untuk perdesaan) dan garis kemiskinan bukanmakanan (1,75 persen untuk perkotaan dan 3,11 persen untuk perdesaan).

Berdasarkan komoditas makanan, ada enam komoditas yang secara persentase memberikan kontribusi yang cukup besar pada garis kemiskinan makanan yaitu beras, rokok filter, gula pasir, telur ayam ras, tempe, dan tahu. Komposisi tersebut terjadi pada semua wilayah baik di perdesaan maupun perkotaan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) selama satu semester ini menunjukkan penurunan sebesar 0,141 poin, yaitu dari 2,126 pada September 2015 menjadi 1,985 pada Maret 2016. Penurunan nilai P1 tersebut terjadi di perkotaan (0,182 poin) serta di perdesaan (0,071 poin).

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan 0,139 poin atau menjadi 0,474 pada Maret 2016. Penurunan kedua nilai yaitu P1 dan P2memberikan indikasi rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin juga semakin menyempit. (ryo/jatimprov.go.id/lam)