Ads

Jumat, 22 Juli 2016

Juli 22, 2016
Proses Persidangan / Dok. Koran Pagi
KORANPAGI - Tergiur miliki motor gede (moge), mantan Kapolres Lumajang, AKBP Fadly Mundir Ismail, tertipu uang sebanyak Rp 150 juta, oleh terdakwa Ganis Sitorus. Sidang beragendakan keterangan saksi dari terlapor itu digelar di ruang sidang sari Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Kamis (21/07/2016). Sidang yang dipimpin hakim Bayu Isdiatmoko ini mengagendakan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Maharyuning Wulan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, yakni AKBP Fadly Munzir Ismail.
Dalam persidangan, terdakwa Abdul Ganis Sitorus ini semakin tidak bisa mengelak di hadapan majelis hakim. Dari keterangan saksi, yakni AKBP Fadly Mundir Ismail, membenarkan, bahwa pada 19 Desember 2014 terdakwa datang kekantor PJR Jatim 2, Waru, Sidoarjo, dengan maksud meminjam uang Rp 150 juta dengan jaminan cek Bank Mandiri senilai Rp 200 juta dan satu unit mobil Ford Everest Nopol L 1104 EB tanpa masalah leasing.

Namun rupanya cek tidak bisa dicairkan karena uang tidak cukup di bank. Bahkan mobil pun masih kredit sehingga tidak bisa dijual. Merasa ditipu, korban pun melaporkan terdakwa ke Polrestabes Surabaya. Motor merk Harley Davison plus spare part-nya.

"Dari situ saya yakin dengan omongan terdakwa dan meminjamkan uang 150 juta secara bertahap" Ungkap mantan Kepala Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) di Kepolisian Daerah Jawa Timur (Jatim). 

Karena waktu itu korban masih menjabat sebagai Kanit Patroli PJR Polda Jatim. Korban menyerahkan uang, karena dijanjikan akan diberi motor gede. Dalam perkara ini majelis hakim sempat marah, karena terdakwa dinilai berbelit-belit di hadapan majelis hakim. Sementara terdakwa tidak bisa mengelak lagi saat ditanya oleh hakim. Apakah keterangan saksi benar atau salah. Setelah pada tanggal pembayaran hutang yang sudah disepakati, terdakwa.

"Saya telp juga tidak diangkat. Lalu saya menagih ke istrinya, tapi tidak membuahkan hasil, lantas saya mencairkan cek dan mobil yang dijaminkan. Ternyata ceknya tidak bisa dicairkan dan mobilnya juga sudah dijaminkan ke PT ACC" pungkas Fadly. Pertama pada hari Jum'at 26 Desember 2014. Sebesar Rp75 juta untuk kekurangannya sebesar Rp. Dan 30 Desember 2014, melalui transfer melalui M Banking.

"Saya juga membuat Surat Pernyataan pada 26 Desember 2014 yang ditulis diatas kertas bermeterai antara terdakwa dan saya yang dengan saksi Edy Purwanto yang disaksikan oleh saksi Sudarso dan saksi Hanto Budi Hario." ujar Fadly.

Terdakwa membenarkan dan berkata "ini masih dalam nuansa lebaran maka saya mengucapkan maaf lahir bati kepada pak Fadly" ucapnya.

Atas perbuatannya terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP, ancaman 4 tahun kurungan penjara. Sidang selanjutnya akan digelar dengan agenda tuntutan dari jaksa penuntut umum. (dm/snd)