Ads

Jumat, 29 Juli 2016

Juli 29, 2016


KORANPAGI - Direktur PT Samudera Sentosa Abadi (SSA), Franky Husen, diperiksa sebagai saksi atas kasus penipuan dengan terdakwa Hariman Prayogo di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (28/07/2016). Dalam keterangannya, Franky ternyata tidak mengetahui perihal perjanjian sewa antara PT SSA dengan terdakwa.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Musa Arief Aini, Franky bercerita tentang bagaimana awal mula terdakwa menyewa kapal milik PT SSA. "Awalnya pada 2014, perusahaan kami ada kerjasama carter kapal untuk pengangkutan batubara dengan terdakwa. Pembayaran awalnya lancar, tapi akhir-akhir terjadi keterlambatan pembayaran," ujarnya.

Karena terlambat, terdakwa akhirnya menyerahkan lima lembar cek. "Selama ini pembayaran dilakukan secara transfer. Tapi karena terlambat, terdakwa akhirnya menyerahkan cek ke perusahaan kami," terangnya.

Singkat cerita, ternyata dari lima cek tersebut, hanya tiga cek yang bisa dicairkan. Sementara dua cek tidak bisa dicairkan. "Tiga kali saya coba cairkan tapi selalu gagal. Setelah itu ada upaya perdamaian dan berjanji akan menyelesaikan tunggakannya, tapi sampai sekarang tidak ada realiasasinya," terang Franky.

Franky mulai tidak bisa berkutik saat Muhamad Jawahir, kuasa hukum terdakwa bertanya soal dibuatnya perjanjian sewa kapal tersebut. "Saya tidak tahu dimana penandatanganan perjanjian itu dibuat karena yang menangani perjanjian itu bukan saya, ada bagian lain," kilahnya.

Hakim Musa pun merasa heran mengapa Franky sebagai Direktur tidak mengetahui kapan dan dimana perjanjian sewa kapal tersebut dibuat. "Anda itu direktur sekaligus pemilik atau pekerja. Soalnya banyak direktur yang tidak tahu apa-apa. Saya juga pernah menyidangkan satpam dijadikan direktur, yang hanya tahu tanda tangan saja," tegas hakim Musa.

Atas teguran itu, Franky akhirnya mengaku bahwa perjanjian sewa kapal oleh terdakwa dibuat tanpa sepengetahuan dirinya. "Yang ngurus perjanjian sewa kapal bukan saya, tapi staf perusahaan yaitu Voni dan Elvis," akuinya.

Usai Franky memberikan keterangan, terdakwa langsung membantahnya. "Soal tiga cek sudah cair itu benar pak hakim, tapi yang dua cek belum cair iti karena pengerjaan pengakutan belum terselesaikan," bantah terdakwa.

Sementara itu, Jawahir menjelaskan bahwa Franky dan terdakwa memang tidak pernah bertemu dan saling tidak kenal. "Yang membuat perjanjian itu karyawannya, bukan saksi Franky. Ada bukti-bukti email soal sewa kapal antara klien saya dan karyawan saksi Franky. Kami akan ungkap semuanya," terang Jawahir usai sidang.

Perlu diketahui, kasus penipuan ini bermula ketika terdakwa Hariman Prayogo, Direktur PT Seagate Maritim Line menyewa kapal tugboat dan tongkang ke Franky Husen, Direktur PT Samudra Sentosa Abadi pada Juni 2014 lalu untuk pengangkutan batubara. Saat itu, terdakwa berjanji membayar uang sewa kapal itu satu minggu setelah tutup palka.

Setelah menggunakan kapal milik PT Samudra Sentosa Abadi, ternyata terdakwa tidak segera melakukan pembayaran sewa seperti yang telah dijanjikan. Kemudian pada Desember 2014, Franky meminta agar terdakwa segera melakukan pembayaran sewa kapal sebesar Rp 3,1 miliar. Saat itu, terdakwa berjanji akan segera membayar sewa dan denda kapal tersebut.

Kemudian pada 26 Desember 2014, saksi Jaya Wisesa atas perintah terdakwa menyerahkan sebanyak 5 lembar cek Bank Mandiri kepada PT. Samudra Sentosa Abadi yang pada saat itu penyerahannya di Grand City Mall Surabaya.

Setelah lewat tanggal jatuh tempo, ternyata dari 5 lembar cek tersebut, ada 2 lembar cek yang tidak bisa dicairkan, yang masing-masing cek bernilai Rp 796 miliar, sehingga Franky mengalami kerugian sebesar Rp 1,5 miliar. Atas perbuatannya terdakwa dijerat dengan pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan 378 KUHP tentang penipuan. (dm/snd)