Ads

Jumat, 22 Juli 2016

Juli 22, 2016
Terminal Purbaya (Bungurasih) / Dok. Koran Pagi
KORANPAGI - Terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya masih amburadul dari para crew bus yang tak jarang sering meresahkan penumpang. Hal itu diduga adanya campur tangan pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya yang masih membudayakan pungutan liar (pungli) di terminal tersebut, Kamis (21/7/2016).

Meski penertiban dan operasi mendadak (sidak) digencarkan, tindakan itu tidak bakal bisa menyelesaikan kesemrawutan di terminal bus bungurasih.
Dari hasil investigasi di lapangan, praktek curang yang dilakukan oleh beberapa crew bus dengan cara mengambil penumpang sebelum gilirannya, tampak dibiarkan tanpa adanya tindakan apapun dari petugas Dishub. Hal itu mengindikasikan bahwa benar ada pungutan liar (pungli) oleh oknum Dishub kepada crew bus yang sudah terkoordinir rapi, sehingga kegiatan yang jelas melanggar aturan itu seakan tidak bisa hilang.

"Bus yang mengambil penumpang di belakang itu sudah kerjasama dengan petugas mas, ada nilai setorannya per busnya. Untuk satu busnya bayar ke Dishub antara Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Pungutan itu kerab kali terjadi di jalur Jember," ungkap sumber menjelaskan praktek 'mafia' di terminal itu, Jumat (9/7/2016).

Kegiatan 'pungli', lanjutnya, sudah ada sejak lama, oleh sebab itu, upaya penertiban dinilai tidak akan bisa menghapus praktek pungli yang seakan membudaya di terminal Purabaya,"Sudah bertahun-tahun kegiatan itu mas, kalau memang tidak ada pungli, gak bakal ada crew bus yang berani melakukan penyimpangan disini. Semua perusahaan otobus (PO) pasti tunduk dengan petugas, ibaratnya mereka (petugas Dishub) kan yang punya rumah, jadi ya menurut saja apa kata tuan rumahnya mas," bebernya.

Sama halnya dengan aktifitas crew bus yang nekat menggait calon penumpang di ruang tunggu penumpang. Perlu diketahui, dalam aturan yang ditetapkan, crew bus tidak diperbolehkan naik atau masuk di ruang tunggu penumpang,"Kalau sesuai aturannya ya tidak boleh crew bus masuk ke ruang tunggu penumpang, ada sanksinya mas, ditangkap petugas kalau ketahuan," Nizar, salah seorang tukang sapu di Bungurasih, Rabu (20/7/2016).

Faktanya, aktifitas crew bus yang menarik penumpang didalam ruang tunggu sangat mudah untuk dijumpai, bahkan mereka berkeliaran di depan petugas Dishub yang berjaga.
Sebelumnya, Kepala Terminal Purabaya, Soesandi Ismawan, ketika dikonfirmasi terkait dengan masih 'amburadulnya' terminal Bungurasih dengan maraknya bus yang mengambil penumpang diluar jalur dan crew bus yang bebas masuk ruang tunggu penumpang, dirinya terkesan tidak banyak sikap,"Kami akan terus berupaya mentertibkannya, silahkan langsung tanyakan ke Kasubnit Terminal saja," katanya, Selasa (5/7/2016).

Sementara, Kasubnit Terminal, Harjo, belum bisa dimintai keterangan mengenai masih amburadulnya sistem di terminal Purabaya,"Mas, ini pak Harjo saya hubungi masih belum bisa, mungkin masih ada kegiatan dilapangan," ujar salah satu petugas Dishub.
Karena itu, pada setiap momen lebaran, terminal Purabaya menjadi 'surga' bagi oknum-oknum petugas yang bermain 'pungli' dengan para crew bus.

Terpisah, Pagarjati Indonesia menegaskan, praktek pungli jelas merupakan tindakan yang melawan ketentuan peraturan daerah (Perda), "Apapun itu, yang namanya pungutan liar tetap saja tindakan yang tidak sesuai aturan, itu penyimpangan. Kami akan menindaklanjuti hal itu, karena dampaknya kembali ke masyarakat yang dirugikan," papar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pagarjati Indonesia, M Zainul Fadli, SH, Rabu (20/7/2016).

Abdulrohman, dari LSM Lembaga Monitoring Pendidikan dan Pelayanan Publik (LMP3) menyampaikan bahwa, dalam waktu dekat pihaknya segera melayangkan surat ke Dishub Kota Surabaya terkait dengan masih tidak tertibnya baik bus maupun crew bus di terminal Purabaya (Bungurasih).

"Sebenarnya aturan yang sudah diterapkan itu sudah baik, karena ada oknum didalamnya akhirnya jadi amburadul. Segera kami layangkan surat ke pihak Dinas Perhubungan untuk kasus ini," pungkas Abdurohman kepada wartawan. (fa/rs/snd)